Kirka – Kunjungan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, ke Beijing yang mengakhiri delapan tahun musim dingin diplomatik, dinilai bukan sekadar seremoni politik biasa.
Langkah ini dibaca sebagai pergeseran fundamental di mana pragmatisme ekonomi akhirnya memaksa ego geopolitik untuk menepi.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menyebut pertemuan Starmer dan Presiden Xi Jinping sebagai simbol kedewasaan politik yang patut dicermati.
Menurutnya, jabat tangan di Beijing itu membuktikan bahwa di tengah sistem internasional yang anarkis, kebutuhan domestik tetap menjadi panglima.
“Ini kemenangan diplomasi, tapi dasarnya adalah realisme telanjang. Starmer dan Xi memilih meja perundingan ketimbang memperpanjang isolasi.
“Ada kalkulasi kepentingan yang rumit di balik senyum hangat mereka,” ungkap Mahendra dalam analisis tertulisnya, Sabtu, 31 Januari 2026.
Inggris Butuh Jangkar Baru
Dalam pandangan Mahendra, kemesraan mendadak ini dipicu oleh desakan ekonomi yang tak bisa ditawar.
Pasca Brexit, Inggris dinilai sedang pontang-panting mencari pijakan ekonomi baru.
Inflasi yang mencekik dan keraguan investor membuat London tak punya kemewahan untuk terus bermusuhan dengan raksasa ekonomi dunia.
“Inggris sadar, konfrontasi terus-menerus dengan Beijing hanya akan memperparah inflasi dan menjegal ambisi investasi hijau mereka.
“Suka tidak suka, Tiongkok adalah pasar konsumen dan pabrik dunia yang mustahil diabaikan,” urai Mahendra.
Sebaliknya bagi Tiongkok, merangkul Inggris salah satu pusat finansial global dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB adalah taktik jitu untuk menyeimbangkan tekanan politik yang datang dari Washington.
Peluang untuk Jakarta
Lantas, apa dampaknya bagi Indonesia? Mahendra optimistis bahwa gencatan senjata ekonomi antara dua kekuatan besar ini membawa angin segar bagi Jakarta.
Ketika ketegangan mereda, sumbatan pada rantai pasok global otomatis melonggar.
Mahendra menyoroti potensi kolaborasi investasi tripihak yang sebelumnya sulit terbayangkan.
Inggris dengan standar teknologi tingginya, dan Tiongkok dengan dominasi bahan bakunya, bisa bertemu dalam proyek-proyek strategis di tanah air.
“Peluang terbuka lebar di sektor energi terbarukan, hilirisasi mineral, atau infrastruktur hijau.
“Indonesia sangat bisa memposisikan diri sebagai medan pertemuan modal Barat dan Timur. Syaratnya satu, kita tidak boleh cuma jadi penonton,” tegasnya.
Pelajaran bagi Dunia
Menutup catatannya, Mahendra mengingatkan kembali pada adagium klasik bahwa dalam politik internasional, tidak ada musuh atau teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.
Langkah Starmer dan Xi adalah bukti bahwa desakan ekonomi bisa memaksa para pemimpin dunia turun dari kuda tinggi mereka.
“Di tengah polarisasi blok Barat dan Timur yang sempat mengeras, keberanian untuk memprioritaskan stabilitas ekonomi di atas perbedaan ideologi adalah langkah negarawan yang mahal harganya.
“Ini sinyal bagi kita untuk pandai-pandai menari di antara dua kekuatan yang kini mulai selaras,” pungkas Mahendra.






