Kualitas Udara Lampung Masuk Kategori Baik, Lampung Timur Justru Cetak Skor Tertinggi

Kualitas Udara Lampung Masuk Kategori Baik, Lampung Timur Justru Cetak Skor Tertinggi
Alat pemantau kualitas udara milik UPTD Laboratorium Lingkungan DLH Provinsi Lampung (kiri) dan jajaran BPBD Lampung bersama tim BNPB di depan pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Bandara Raden Intan II (kanan) saat bersiaga menjaga mutu udara Lampung tetap aman, akhir pekan lalu. Foto: Arsip Pemprov Lampung/Kirka/Iz

Kirka – Kualitas udara di Provinsi Lampung tercatat tetap bersih dan aman bagi kesehatan masyarakat di tengah isu kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sumatera.

Berdasarkan rekapitulasi tahunan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung, capaian Indeks Kualitas Udara (IKU) tingkat provinsi menyentuh angka 87,32 atau masuk kriteria baik, sedangkan Kabupaten Lampung Timur berhasil mencetak skor tertinggi sebesar 92,74 dengan kriteria sangat baik.

Capaian tinggi Kabupaten Lampung Timur menjadi catatan positif tersendiri mengingat wilayah berjuluk Bumei Tuwah Bepadan memiliki kawasan hutan konservasi luas yang sedang menghadapi ancaman titik panas.

Sementara di pusat pergerakan warga, langit Kota Bandar Lampung juga terpantau bebas dari paparan polusi udara berbahaya maupun sebaran abu vulkanik.

Kepala DLH Provinsi Lampung, Riski Sofyan, mengungkapkan bahwa data Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang terintegrasi bersama sistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan kondisi udara ibu kota provinsi sangat terkendali.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026 pukul 16.00 hingga 17.00 WIB, angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak di rentang 55 sampai 68, kemudian melandai ke angka 63 pada pukul 20.00 WIB.

Indikator ISPU pada level 63 menempatkan Bandar Lampung di zona biru atau kategori sedang, sehingga udara tetap layak dihirup oleh manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Pemantauan mutu udara secara berkala sudah dijalankan sejak 8 Oktober 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Saya sampaikan kepada seluruh masyarakat Lampung, jangan khawatir. Hasilnya, kualitas udara Bandar Lampung masih normal.

“Uji seluruh parameter mulai dari TSP, PM10, PM2,5, hingga SO2 menunjukkan angka di bawah ambang batas yang dipersyaratkan,” ujar Riski Sofyan, dilansir pada Senin, 19 Oktober 2026.

Sirkulasi udara yang sehat di Bandar Lampung turut ditopang oleh kondisi cuaca cerah berawan dengan suhu rata-rata 27 derajat Celsius serta tingkat kelembapan mencapai 84 persen.

Stabilnya kualitas atmosfer membuat warga tetap leluasa bekerja, belajar, maupun berolahraga di ruang terbuka tanpa pembatasan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma juga dapat beraktivitas secara normal sembari menjaga pola hidup sehat.

“Artinya udara kita masih dalam batas aman, tidak seperti daerah lain yang sudah masuk kategori kuning, merah, bahkan hitam.

“Semua berkat kerja keras bersama dalam menjaga lingkungan serta pengendalian emisi,” tambah Riski.

Meski situasi relatif terkendali, DLH Provinsi Lampung tetap mengimbau warga agar tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar.

Masyarakat juga diajak rutin melakukan uji emisi kendaraan bermotor, memperbanyak penanaman pohon demi menjaga Ruang Terbuka Hijau (RTH), serta memantau pembaruan data kualitas udara lewat kanal resmi DLH maupun aplikasi ISPUnet milik KLHK.

Redam Asap di Way Kambas

Terjaganya mutu udara di wilayah Lampung tidak lepas dari kerja keras tim gabungan dalam melokalisasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar kepulan asap tidak meluas ke permukiman penduduk.

Fokus pemadaman terbesar sekarang terpusat di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, yang mulai terbakar sejak pertengahan bulan lalu.

Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat keberadaan 73 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang serta 11 titik panas tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Lampung.

Area TNWK mendominasi sebaran titik api melalui temuan 25 titik panas berskala sedang sekaligus mayoritas titik panas berlevel tinggi.

“Mulai dari tanggal 15 September hingga sekarang, pemerintah masih terus berupaya berjibaku memadamkan titik api utama yang berlokasi di TNWK,” tegas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, Aswarodi, saat memantau Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Raden Intan II, kemarin.

Guna memutus rambatan api di area konservasi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyiagakan 350 personel Satgas Darat yang terdiri dari unsur Kodam, Batalyon, Kodim, BPBD Lampung Timur, hingga Masyarakat Peduli Api.

Kehadiran pasukan darat sangat dibutuhkan karena armada helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kerap terhalang rapatnya tajuk pepohonan tinggi, sehingga kucuran air dari udara hanya jatuh menjadi percikan kecil saat menyentuh dasar lahan gambut.

Selain penyiraman lewat helikopter, intervensi jalur udara atas permohonan Gubernur Lampung serta atensi langsung dari Presiden turut diwujudkan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama maskapai Smart Aviation sejak 10 Oktober 2026.

Dari tiga sorti penerbangan di langit Lampung, penyemaian zat HCl sempat menurunkan hujan ringan pada 11 Oktober 2026, namun pergerakan angin menggeser jatuhnya air hujan ke wilayah Metro dan Natar.

Sejak 14 Oktober lalu, sedikitnya pertumbuhan awan konvektif di langit Lampung bagian timur membuat tim udara terus bersiaga menunggu potensi awan baru.

Di luar kawasan TNWK, sebaran karhutla juga terpantau di Kabupaten Mesuji, Lampung Utara, Lampung Tengah, Tulang Bawang, serta Tulang Bawang Barat.

Salah satu kobaran api yang sempat menyita perhatian pengguna media sosial muncul di area perkebunan karet dekat jalan tol perbatasan Tulang Bawang Barat dan Tulang Bawang.

Berkat akses lokasi yang mudah dijangkau melalui jalur darat, tim gabungan dari BPBD Tulang Bawang Barat, BPBD Tulang Bawang, BPBD Lampung Tengah, Damkar, Brimob, serta petugas pemadam internal PT HIM berhasil mematikan seluruh titik api di pinggir tol tanpa menyisakan asap pada Sabtu pagi.

Petugas berwenang sedang menyelidiki pemicu terbakarnya kebun karet di tepi jalan tol yang diduga kuat berasal dari kelalaian manusia, baik akibat buangan puntung rokok sembarangan maupun unsur kesengajaan.

Kolaborasi pemadaman darat dan udara terus digencarkan secara penuh guna menyelamatkan ekosistem hayati, mengamankan kelancaran jalur transportasi, serta melindungi kesehatan pernapasan masyarakat Lampung.