Kirka – Provinsi Lampung dinilai memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kakao nasional.
Dengan stabilitas produksi yang terjaga, Bumi Ruwa Jurai kini membutuhkan dorongan hilirisasi yang lebih masif untuk mendongkrak kesejahteraan petani.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, saat menyoroti potensi komoditas unggulan daerah ini.
Menurutnya, Lampung layak berbangga karena konsisten menjadi salah satu lumbung kakao di Indonesia.
“Dalam periode 2020 hingga 2025, produksi kakao kita cukup stabil di kisaran 45.000 sampai 58.000 ton per tahun.
“Bahkan puncaknya sempat menyentuh angka 58.852 ton pada 2020,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Minggu, 1 Februari 2026.
Mahendra merinci, tulang punggung produksi kakao di Lampung tersebar di beberapa wilayah sentra perkebunan rakyat, yakni Kabupaten Pesawaran, Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Lampung Tengah.
Meski volumenya besar, Mahendra mengingatkan bahwa tantangan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Ia mencatat produktivitas lahan kakao di Lampung masih berkisar 700-900 kg per hektare.
Angka ini dinilai masih perlu dikejar jika dibandingkan dengan negara produsen utama dunia seperti Pantai Gading dan Ghana.
“Mereka bisa mendominasi pasokan dunia dengan jutaan ton karena intensifikasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang lebih efektif. Ini yang perlu kita tiru,” jelasnya.
Lebih jauh, Mahendra mengutip teori comparative advantage dari David Ricardo sebagai referensi strategi.
Menurutnya, Indonesiakhususnya Lampung harus fokus memanfaatkan keunggulan alam tropis, namun wajib meningkatkan efisiensi agar tidak terjebak hanya menjadi pemasok bahan baku mentah.
Kebijakan Pemerintah
Dalam kesempatan tersebut, Mahendra turut mengapresiasi langkah strategis pemerintah pusat.
Ia menilai komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat sektor pertanian sebagai pondasi ekonomi rakyat sudah berada di jalur yang tepat.
Dukungan serupa juga ditujukan kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang dinilai gigih mendorong program intensifikasi, rehabilitasi tanaman tua, hingga hilirisasi.
“Kepala daerah di Lampung, khususnya di sentra seperti Pesawaran dan Tanggamus yang pro petani, juga layak kita acungi jempol.
“Pendampingan mereka kepada petani dalam menghadapi hama dan akses pasar sangat krusial,” tambahnya.
Game Changer
Menutup pandangannya, Mahendra menegaskan bahwa kakao Lampung tidak boleh hanya dipandang sekadar komoditas dagang biasa, melainkan harapan nyata bagi ekonomi masyarakat.
Ia mendorong agar proses hilirisasipengolahan dari biji kakao menjadi produk jadi seperti cokelat batangan dilakukan secara lebih masif dan terstruktur.
“Hilirisasi ini bisa jadi game changer. Jika kita optimalkan potensi ini, kakao bukan hanya soal angka produksi, tapi soal kesejahteraan petani dan Indonesia yang lebih makmur,” pungkas Mahendra.






