Kirka – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tidak ingin petani di Lampung hanya terjebak pada rutinitas tanam dan panen konvensional.
Usai mengukuhkan kepengurusan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Lampung periode 2026–2031, Gubernur yang akrab disapa Mirza ini langsung melempar tantangan serius, modernisasi total dan penguatan hilirisasi.
Berbicara di hadapan 44 pengurus baru yang diketuai Hanan A. Rozak di Aula Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung, Mirza menegaskan bahwa petani harus menjadi subjek utama ekonomi, bukan sekadar objek produksi.
“Petani dan nelayan adalah garda terdepan ketahanan pangan. Tapi kita tidak bisa lagi bicara cara lama.
“Saya minta KTNA menjadi jembatan teknologi, kita dorong mekanisasi dan pengolahan pasca-panen agar nilai tukar petani naik,” tegas Mirza, dikutip pada Minggu, 1 Februari 2026.
Tantangan modernisasi ini bukan sekadar wacana.
Dalam arahannya, Gubernur Mirza memaparkan langkah konkret Pemerintah Provinsi Lampung untuk menjaga stabilitas harga yang kerap anjlok saat panen raya akibat kadar air tinggi.
Mirza telah menginstruksikan pengadaan fasilitas pengering (dryer) di setiap kabupaten.
Keberadaan dryer ini diharapkan memangkas rantai logistik yang merugikan petani dan menjaga kualitas komoditas agar tetap kompetitif di pasar.
“Kalau ada fasilitas pengolahan di tingkat lokal, beban logistik turun, pendapatan riil petani otomatis naik. Ini yang kita kejar,” ujarnya.
Selain infrastruktur fisik, Mirza juga memastikan keberlanjutan program pupuk organik cair gratis.
Targetnya cukup ambisius, menjangkau satu juta hektar lahan pertanian di seluruh penjuru Lampung.
Program tersebut dirancang untuk menekan biaya produksi sekaligus memulihkan kesehatan tanah jangka panjang.
Visi Mirza ini sejalan dengan kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto melalui program Astacita, yang menargetkan kemandirian pangan dan pembangunan dari desa.
Mirza menekankan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi seperti KTNA adalah kunci menerjemahkan kebijakan pusat menjadi kesejahteraan riil di tingkat tapak.
“Kebijakan peningkatan produksi harus dibarengi perlindungan harga.
“Di sinilah peran KTNA sangat strategis untuk menyerap aspirasi sekaligus mengedukasi petani soal tata niaga baru,” tambahnya.
Sementara, Ketua Umum KTNA Nasional, H. Mohamad Yadi Sofyan Noor, yang turut hadir menyaksikan pengukuhan tersebut, memberikan apresiasi tinggi.
Ia menyebut hubungan harmonis antara Pemprov Lampung dan komunitas tani sebagai modal besar.
Melihat soliditas kepengurusan di bawah komando Hanan A. Rozak serta dukungan penuh Gubernur, Yadi tak ragu melabeli Lampung sebagai acuan nasional.
“Kehadiran Gubernur hari ini bukti keberpihakan nyata. Saya sampaikan, KTNA Lampung harus jadi barometer nasional.
“Pengurus baru jangan hanya sibuk administrasi, tapi turun ke sawah, kawal hilirisasi yang diminta Gubernur tadi,” pesan Yadi.






