Demi Energi RI, Lampung ‘Main Besar’ di Investasi Bioetanol

Demi Energi RI, Lampung 'Main Besar' di Investasi Bioetanol
Ilustrasi alur teknologi multifeedstock yang mengolah ragam hasil tani dan limbah biomassa menjadi energi hijau demi mendukung kemandirian nasional. Foto: Arsip Kirka/I/DBS

Kirka – Peta jalan kemandirian energi nasional mendapatkan amunisi baru dari Sumatera.

Pemerintah Provinsi Lampung kini tengah mematangkan skema investasi industri bioetanol berbasis teknologi multifeedstock.

Yakni, sebuah langkah strategis yang mengintegrasikan sektor pertanian lokal dengan kebutuhan energi masa depan.

Keseriusan tersebut tercermin dalam rapat koordinasi lintas sektor di Ruang Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, kemarin.

Tidak tanggung-tanggung, pembahasan ini melibatkan konsorsium gemuk yang terdiri dari Kementerian Investasi/BKPM, Pertamina New & Renewable Energy, prinsipal otomotif Toyota, hingga Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels asal Jepang.

Mewakili Gubernur Lampung, Asisten III Bidang Administrasi Umum Mulyadi Irsan menegaskan posisi tawar Lampung yang vital.

Secara geografis, Lampung adalah pintu gerbang logistik ke Jawa, namun kekuatan utamanya terletak pada pasokan bahan baku.

“Struktur ekonomi Lampung 29 persennya ditopang pertanian. Produksi jagung kita tembus 2,7 juta ton per tahun, dan singkong kita menyuplai 70 persen kebutuhan nasional.

“Ini basis fundamental untuk feedstock bioetanol,” tegas Mulyadi, dikutip pada Jumat, 30 Januari 2026.

Isu klasik rebutan bahan baku antara piring makan dan tangki bahan bakar ditepis lewat penerapan teknologi multifeedstock.

Mulyadi menguraikan, teknologi ini memungkinkan fleksibilitas bahan baku.

Pabrik tidak terkunci pada satu komoditas, melainkan bisa mengolah tebu, ubi kayu, nira, hingga limbah biomassa.

“Kuncinya di keseimbangan. Dengan multifeedstock, produksi energi berjalan tanpa mendistorsi ketahanan pangan,” imbuhnya.

Dari sisi eksekusi, Pertamina New & Renewable Energy telah memancang target konkret.

Rencananya, kawasan Tegineneng di Kabupaten Pesawaran akan dijadikan lokasi pembangunan demo plant bioetanol generasi kedua.

Berbeda dengan generasi awal, fasilitas ini akan menguji coba pengolahan limbah biomassa kelapa sawit dan tanaman sorgum.

Langkah itu dinilai taktis sebelum masuk ke skala komersial penuh.

Di sisi hilir, Toyota melalui perwakilannya, Reco, menyatakan kesiapan menyerap produk ini lewat teknologi kendaraan flex fuel, mengejar target campuran etanol E20 pada 2030.

Sementara, pemerintah pusat melalui Kementerian Investasi/BKPM memberikan garansi dukungan penuh.

Riffana, perwakilan BKPM, memastikan pihaknya siap memangkas hambatan birokrasi.

Dukungan mencakup percepatan perizinan, insentif fiskal, hingga fasilitasi kemitraan teknologi asing (joint venture).

Investasi ini juga diproyeksikan sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada energi dan hilirisasi.