Anggaran Jembatan Rp80 Miliar, Bupati Lampung Timur Angkat Tangan Lihat Pelajar Naik Getek

Anggaran Jembatan Rp80 Miliar, Bupati Lampung Timur Angkat Tangan Lihat Pelajar Naik Getek
Viral momen pelajar di Lampung Timur nekat menyeberangi sungai menggunakan getek dan perahu kayu sambil membawa sepeda motor, menantang bahaya karena belum adanya jembatan penghubung. Foto: Istimewa

Kirka – Realitas pahit harus ditelan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur pasca viralnya video pelajar yang bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan rakit alias getek.

Di tengah desakan publik agar infrastruktur segera dibangun, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menyiratkan ketidanggupan kas daerah jika harus menanggung beban konstruksi sendirian.

Orang nomor satu di Lampung Timur itu blak-blakan menyebut bahwa proyek jembatan tersebut bukanlah pekerjaan ringan.

Estimasi biaya yang dibutuhkan menembus angka Rp80 miliar, nominal yang dinilai terlalu jumbo bagi APBD kabupaten yang kini tengah mengalami tekanan fiskal.

“Kalau kabupaten sendirian, jujur kami belum mampu. Hitungan kasarnya butuh sekitar Rp80 miliar.

“Itu baru fisik jembatan, belum termasuk normalisasi dan pembenahan badan sungai yang juga menelan biaya besar,” ungkap Ela, dikutip pada Senin, 2 Februari 2026.

Ela membeberkan alasan mengapa biaya konstruksi bisa membengkak drastis.

Lokasi penyeberangan yang menghubungkan area pertanian Way Bungur dan Purbolinggo tersebut memiliki karakteristik alam yang ekstrem.

Sungai yang membentang cukup lebar dengan arus bawah yang deras memaksa spesifikasi teknis jembatan harus di atas rata-rata.

Menurutnya, pondasi harus dipancang sangat dalam dan tinggi untuk mengantisipasi luapan air yang kerap terjadi.

Selain itu, secara yurisdiksi, sungai tersebut berada di bawah kendali Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), sehingga intervensi daerah memiliki batasan administratif.

“Arusnya deras dan lebar sungainya ekstrem. Pondasinya tidak bisa sembarangan, harus spek tinggi. Ini juga wilayah kewenangan BBWS, bukan aset murni daerah,” jelasnya.

Fakta di lapangan menunjukkan, Pemkab sebenarnya tidak tinggal diam.

Jejak pembangunan sempat terlihat ketika dana hampir Rp19 miliar digelontorkan untuk membangun pondasi awal di kedua sisi sungai.

Sayangnya, proyek itu terhenti di tengah jalan. Keterbatasan ruang fiskal membuat sisa konstruksi urung dilanjutkan hingga kini.

Sadar bahwa APBD angkat tangan, Pemkab Lampung Timur kini mengubah strategi.

Ela menegaskan pihaknya tengah intens melobi pemerintah pusat dan menggandeng TNI sebagai solusi jangka pendek.

Program Jembatan Merah Putih yang dikerjakan bersama TNI digadang-gadang menjadi jalan keluar darurat.

Tujuannya sederhana, memutus risiko kecelakaan bagi pelajar yang setiap pagi harus bergelut dengan maut di atas getek.

“Kami sudah koordinasi dengan Kodim. Tim sudah turun mengukur dan menghitung volume pelintas, terutama anak sekolah.

“Targetnya triwulan pertama atau kedua tahun ini Jembatan Merah Putih bisa berdiri sebagai solusi afirmasi sementara,” papar Ela.

Menutup keterangannya, Ela menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada warganya.

Ia mengakui keterbatasan pemerintah daerah, namun memastikan bahwa upaya lobi ke tingkat provinsi dan pusat terus berjalan agar jembatan permanen tak sekadar jadi mimpi siang bolong.