Kawasan Industri Baru dan Ekosistem Hilirisasi Unggas

Kawasan Industri Baru dan Ekosistem Hilirisasi Unggas
Ilustrasi kawasan industri baru dan fasilitas pengolahan unggas terpadu di Lampung yang menjadi sorotan Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama. Foto: Ilustrasi/Kirka/Iz

Kirka – Provinsi Lampung bersiap menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan lima kawasan industri strategis serta ekosistem hilirisasi peternakan terintegrasi.

Pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menggelontorkan total investasi hingga Rp20 triliun guna mempercepat pembangunan fasilitas produksi dari hulu ke hilir di wilayah gerbang Pulau Sumatera.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengatakan bahwa keberhasilan program hilirisasi sangat bergantung pada ketersediaan ruang fisik serta kesiapan ekosistem produksi di daerah.

Sebagai langkah nyata, Provinsi Lampung telah menyiapkan lima kawasan industri strategis yang berfungsi sebagai production estate, mencakup wilayah Kota Bandar Lampung hingga Kabupaten Lampung Selatan.

“Hilirisasi membutuhkan ruang fisik dan ekosistem produksi yang memadai.

“Kesiapan lima kawasan strategis di Lampung, termasuk Bandar Lampung dan Lampung Selatan, menjadi pondasi utama bagi berjalannya roda industri pengolahan,” kata Mahendra Utama, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Salah satu titik tumpu pengembangan berada di Kawasan Industri Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan.

Kawasan Ketibung dirancang khusus sebagai pusat industri hilir terintegrasi yang menampung berbagai fasilitas strategis, mulai dari kilang pengolahan, pabrik bioetanol, hingga dermaga atau terminal khusus logistik.

Menurut Mahendra, integrasi fasilitas di Ketibung merupakan wujud nyata dari konsep forward linkages atau keterkaitan ke depan sebagaimana teori ekonom Albert O. Hirschman.

Melalui skema keterkaitan antar sektor, kehadiran satu industri pengolahan akan langsung menciptakan permintaan pasar bagi produk dari sektor lainnya di daerah.

“Apa yang disiapkan di Kawasan Industri Ketibung adalah wujud konkret dari konsep forward linkages Hirschman.

“Kehadiran kilang, bioetanol, dan terminal khusus akan saling menopang serta menciptakan permintaan baru bagi hasil produksi sektor lain,” ujar Mahendra menjelaskan.

Suntikan Rp680 Miliar untuk Hilirisasi Unggas Terintegrasi

Selain sektor energi dan manufaktur, penguatan industri hilir di Provinsi Lampung turut menyasar ketahanan pangan melalui subsektor peternakan.

Lewat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, Danantara mengalokasikan anggaran sebesar Rp680 miliar untuk membangun industri ayam terintegrasi di Kabupaten Lampung Selatan.

Mahendra memaparkan, kucuran modal ratusan miliar rupiah pada tahap pertama difokuskan untuk membangun tiga infrastruktur utama, yakni Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), fasilitas gudang beku (cold storage), serta pabrik pakan ternak.

Proyek peternakan terpadu di kawasan Trikora ditargetkan mampu memproduksi hingga 5.760 ton karkas ayam per tahun guna menopang kebutuhan protein masyarakat di Pulau Sumatra.

“Pembangunan fasilitas pengolahan ayam di Trikora berjalan di bawah payung kebijakan program Mandiri Protein di Setiap Provinsi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

“Kapasitas produksi yang mencapai 5.760 ton karkas per tahun akan memperkuat pasokan pangan bergizi bagi masyarakat di wilayah Sumatera,” tutur Mahendra.

Lebih lanjut, Mahendra mengungkapkan bahwa kelancaran arus modal ke Lampung tidak lepas dari peran fasilitasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Keterlibatan aktif berbagai instansi pusat, mulai dari kementerian di bidang pertanian hingga energi, membuktikan bahwa agenda hilirisasi di Lampung digarap secara terpadu.

“Dukungan penuh lintas kementerian, dari sektor pertanian hingga energi, memperlihatkan bahwa hilirisasi di Lampung bukanlah proyek sektoral yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan sebuah agenda kolektif nasional,” tegas Mahendra.

Ia menambahkan, total investasi sebesar Rp20 triliun yang digelontorkan Danantara untuk kluster industri di Lampung menjadi bukti keseriusan negara dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Aliran modal berskala besar dari pemerintah pusat diyakini mampu mempercepat transformasi struktur ekonomi Lampung dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen barang jadi bernilai tambah tinggi.