Suhu Lampung Tembus 38,2 Derajat, BMKG Prediksi Kemarau Bertahan hingga Desember

Suhu Lampung Tembus 38,2 Derajat, BMKG Prediksi Kemarau Bertahan hingga Desember
Ilustrasi suhu udara panas ekstrem di wilayah Provinsi Lampung yang menembus 38,2 derajat celsius akibat paparan radiasi matahari di tengah langit tanpa tutupan awan, Kamis (22/10/2026). Foto: Ilustrasi/Kirka

Kirka – Gelombang hawa panas yang menyengat daratan Provinsi Lampung sejak September hingga Oktober 2026 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau masih bertahan sampai Desember 2026, menyusul rekor suhu tertinggi di Kota Gajah, Kabupaten Lampung Tengah, yang menembus 38,2 derajat celsius dan Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, di level 37 derajat celsius.

Koordinator Bidang Observasi, Data, dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Lampung, Eva Nurhayati, mengungkapkan bahwa catatan suhu rata-rata harian hingga 22 Oktober 2026 telah bergeser jauh di atas patokan normal.

Bila biasanya rata-rata suhu Oktober hanya berkisar 27,2 derajat celsius, angka pengamatan sepanjang Oktober 2026 melonjak 1,8 derajat ke posisi 29 derajat celsius.

“Kalau untuk suhu rata-rata normal itu 27,2 derajat celsius untuk bulan Oktober, sedangkan Oktober 2026 ada di 29 derajat celsius,” kata Eva, dilansir pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Pergeseran angka ekstrem juga terekam pada batas suhu tertinggi harian.

Pada Oktober normal, rentang suhu udara di Lampung umumnya bergerak dari titik terendah 23,6 derajat celsius menuju batas tertinggi 32,9 derajat celsius.

Akan tetapi, rekaman alat ukur BMKG sepanjang Oktober 2026 menunjukkan rata-rata suhu tertinggi harian melesat hingga menyentuh 36 derajat celsius.

Menurut Eva, teriknya cuaca di berbagai kabupaten/kota merupakan dampak pertemuan tiga fenomena alam sekaligus.

Pertama, siklus tahunan ekuinoks yang rutin berlangsung setiap Maret dan September ketika matahari melintas persis di atas garis khatulistiwa, sehingga pancaran sinar ke wilayah Lampung menjadi jauh lebih kuat pada rentang September sampai Oktober.

Kedua, kosongnya lapisan awan di angkasa membuat daratan kehilangan perisai alami penahan radiasi.

Walhasil, permukaan tanah menyerap panas secara utuh sejak pagi hingga petang.

“Kondisi langit yang kering atau bersih tanpa awan membuat radiasi atau panas matahari langsung menyentuh bumi tanpa penyaring,” jelas Eva.

Ketiga, pergerakan atmosfer berskala global berupa angin monsun Australia yang masih aktif berhembus turut menahan masuknya musim penghujan di wilayah Lampung.

Kombinasi ketiga faktor alam tadi membuka peluang berlanjutnya cuaca terik sepanjang sisa Oktober 2026, sebelum berangsur turun memasuki November 2026 seiring beralihnya dinamika atmosfer.

Di sisi lain, tidak seragamnya angka kepanasan antar daerah seperti selisih suhu antara Kota Gajah dan Natar, dipengaruhi oleh kontur topografi serta ketinggian daratan di masing-masing lokasi.

Seluruh angka cuaca harian diperoleh BMKG melalui pembacaan berkala pada deretan alat ukur standar, meliputi termometer maksimum-minimum serta termometer bola basah dan bola kering.

Mengingat potensi cuaca panas masih membayangi hingga penghujung tahun, BMKG mengingatkan warga agar membatasi aktivitas fisik di ruang terbuka saat matahari sedang terik-teriknya pada siang hari.

Warga yang terpaksa berkegiatan di luar ruangan disarankan memperbanyak konsumsi air minum guna mencegah dehidrasi serta mengenakan pelindung kepala seperti topi maupun payung.