Prediksi Ekonomi Provinsi Lampung untuk Triwulan Pertama 2026

Prediksi Ekonomi Provinsi Lampung untuk Triwulan Pertama 2026
Infografis: Proyeksi indikator ekonomi utama Provinsi Lampung pada Triwulan I 2026. Foto: Arsip Kirka/DBS/BPS/I

Kirka – Perekonomian Provinsi Lampung diproyeksikan bakal langsung tancap gas pada pembukaan tahun 2026.

Sinyal positif ini terlihat dari berbagai indikator makro ekonomi yang diyakini mampu mendongkrak pertumbuhan di kisaran 5,0 hingga 5,5 persen (year-on-year) pada triwulan pertama.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, membedah optimisme tersebut dengan merujuk pada tren konsisten yang telah terbangun sejak tahun sebelumnya.

Ia menyoroti capaian triwulan I 2025 di mana Lampung memimpin Sumatera dengan pertumbuhan 5,47 persen sebagai fondasi yang kokoh.

“Kita tidak sedang berbicara angan-angan, tapi data.

“Realisasi investasi yang tembus Rp12,95 triliun atau surplus 120 persen dari target hingga triwulan ketiga 2025 adalah bahan bakar utama yang efek dominonya akan sangat terasa di awal 2026 ini,” tegas Mahendra saat dimintai tanggapan, Selasa, 3 Februari 2026.

Revolusi Infrastruktur

Mahendra memberikan catatan khusus pada strategi pembangunan fisik yang dinilai cerdik.

Kebijakan pemerintah daerah yang mulai 2026 ini secara masif mengalihkan material jalan dari aspal ke beton (rigid pavement), menurutnya, adalah langkah strategis yang berdampak jangka panjang.

Bagi Eksponen 98 ini, perbaikan kualitas jalan bukan sekadar urusan teknis sipil, melainkan urat nadi ekonomi.

“Ketika jalan desa berubah jadi beton, hambatan logistik runtuh. Mobilitas hasil bumi dari sentra produksi ke pasar jadi lebih cepat dan murah.

“Inilah stimulus nyata yang akan memacu geliat ekonomi di akar rumput pada triwulan pertama nanti,” ulasnya.

Investor Asia Pasifik

Selain pembenahan internal, daya tarik Lampung di mata dunia internasional kian seksi.

Mahendra mencatat adanya arus modal yang deras dari raksasa ekonomi Asia Pasifik seperti Singapura, Korea Selatan, Tiongkok, hingga Australia.

Sektor yang disasar pun kian variatif, tak lagi melulu soal perkebunan.

“Investor kini mulai melirik industri farmasi, kimia, hingga telekomunikasi.

“Ini indikator bahwa struktur ekonomi kita mulai naik kelas, tidak hanya bergantung pada komoditas mentah,” tambah Mahendra.

Meski demikian, sektor pertanian dan industri pengolahan tetap menjadi jangkar.

Surplus ekspor sebesar USD 492,72 juta hingga Agustus tahun lalu menjadi bukti bahwa hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi, lada, dan singkong berjalan di rel yang tepat.

Di sisi lain, Mahendra juga menyoroti aspek kesejahteraan masyarakat.

Penurunan angka kemiskinan ke level 10,00 persen per Maret 2025 dinilai sebagai buah dari integrasi data yang akurat lewat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTKSN).

Terkait inflasi, ia memprediksi angkanya akan bergerak stabil di rentang 1,5 hingga 3,5 persen.

Namun, Mahendra mewanti-wanti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk tidak lengah.

“Stabilitas harga adalah kunci daya beli. Waspadai komoditas volatile food seperti cabai dan bawang merah. Distribusi harus lancar agar inflasi tetap jinak,” ingatnya.

Tak lupa, Mahendra pun mengingatkan adanya risiko eksternal yang tetap perlu diwaspadai, seperti fluktuasi harga komoditas global dan anomali cuaca.

“Tantangan cuaca ekstrem bisa mengganggu panen, itu risiko alami.

“Tapi dengan infrastruktur yang membaik dan kolaborasi solid antara pemerintah serta dunia usaha, target pertumbuhan di atas 5 persen sangat masuk akal untuk kita kunci,” pungkas Mahendra.