Menu
Precision, Actual & Factual

Teka-teki Pemanggilan KPK Kepada Vice President PT SGC Purwati Lee pada 8 April 2021

  • Bagikan
Vice President PT Sugar Group Companies (SGC) Purwati Lee di Lapangan Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Lamteng, Kamis, 7 Maret 2019. Ia dan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi bersiaga di tempat penyambutan kedatangan Presiden Jokowi. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Kedatangan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman ke PN Tipikor Tanjungkarang dengan tujuan untuk memastikan pemeriksaan Vice President PT Sugar Group Companies (SGC) Purwati Lee di ruang persidangan, tidak serta merta dapat dianggap hal yang remeh.

Boyamin Saiman seperti diketahui punya rekam jejak dalam hal-hal yang berkaitan dengan pengungkapan perkara korupsi, yang berpotensi ‘menggegerkan’ Republik ini.

Dari penjelasan Boyamin Saiman di PN Tipikor Tanjungkarang pada Kamis, 15 April 2021, KIRKA.CO mencatat bahwa, kehadirannya masih berkorelasi dengan proses persidangan perkara suap dan gratifikasi yang didakwakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap eks Bupati Lampung Tengah (Lamteng) Mustafa.

Perkara Mustafa sejak di tingkat penyidikan sesungguhnya telah menyenggol hal yang berkaitan dengan biaya mahar politik pada kontestasi Pilgub Lampung 2018. Chusnunia Chalim diketahui diperiksa penyidik KPK karena diduga terlibat atas uang hasil korupsi mengalir ke arah biaya mahar politik.

Belakangan Chusnunia Chalim diperiksa di ruang sidang sebagai eks Bupati Lampung Timur dan juga eks Wasekjen DPP PKB.

Hal terkait mahar politik mencuat dalam fakta persidangan dan menyeret sejumlah nama (baik sosok yang memberikan kesaksian maupun yang disebut terlibat dan diduga memiliki pengetahuan atas mahar politik Mustafa) seperti: Purwati Lee; Ketum PKB Muhaimin Iskandar; Anggota DPR RI Daniel Johan; Gubernur Lampung Arinal Djunaidi; Chusnunia Chalim; kader Partai Demokrat Khairudin Gustam; eks Ketua DPW PKB Lampung Musa Zainudin; eks Wakil Ketua DPW NasDem Lampung Mofaje Caropeboka.

Dalam hal ini, terdapat penyebutan sejumlah saksi di ruang sidang, ihwal uang senilai Rp 50 miliar dari Purwati Lee kepada Muhaimin Iskandar yang menyebabkan uang Rp 18 miliar dari terdakwa Mustafa tidak digubris oleh PKB.

Sederhananya, setelah Mustafa membuat kesepakatan dengan Chusnunia Chalim terkait Rp 18 miliar, keduanya pergi menemui Muhaimin Iskandar.

Di sisi lain, Chusnunia mengaku terlebih dulu didatangi oleh Arinal Djunaidi di Rumah Dinas Bupati Lampung Timur dengan maksud meminta dukungan PKB.

Pasca Rp 18 miliar sudah ditransaksikan, PKB tak kunjung mengeluarkan rekomendasi. Hal ini membuat Chusnunia Chalim harus berkomunikasi dengan Daniel Johan. Pasca komunikasi itu, Daniel Johan meminta Chusnunia Chalim atas perintah Muhaimin Iskandar datang ke Jakarta dan resmi didukung menjadi pendamping Arinal Djunaidi. Batalnya rekomendasi PKB ke Mustafa ditengarai keterlibatan Purwati Lee.

Kembali ke Boyamin. Ia sedianya memberikan pengakuan ke pewarta. Boyamin ingin memastikan informasi, apakah benar KPK sudah pernah menjadwalkan pemanggilan Purwati Lee ke perisidangan pada Kamis, 8 April 2021 atau tidak.

Pada hari tersebut, KPK ia pantau dari pemberitaan media massa, tidak memeriksa sosok saksi bernama Purwati Lee. Jika informasi yang ia terima benar, maka konsekuensi logisnya adalah, Purwati Lee dicoba dihadirkan pada sidang berikutnya. Namun pada kenyataannya, ia tidak menyaksikan pemeriksaan Purwati Lee.

Dari hal ini, Boyamin berencana membuat aduan ke Dewan Pengawas (Dewas) KPK. Aduan ini dijadikannya sebagai bahan uji atas informasi yang ia terima: bahwa disebutkan nama Purwati Lee memang terdaftar sebagai saksi pada 8 April 2021.

Benarkah KPK memang pernah menjadwalkan pemanggilan Purwati Lee? Apakah KPK bernyali untuk menghadirkan sosok tersebut ke ruang persidangan?

KIRKA.CO melakukan verifikasi kepada sejumlah narasumber yang berkompeten untuk memberikan jawaban ini.

KIRKA.CO pada Kamis, 8 April 2021, mendapati adanya pewarta yang bertanya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Taufiq Ibnugroho tentang apakah benar KPK menjadwalkan penghadiran Purwati Lee. Atas pertanyaan itu, Taufiq Ibnugroho mengatakan, ” kita lihat saja nanti ya”.

Kemudian, KIRKA.CO pada Kamis, 15 April 2021 meminta penjelasan kepada Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkara korupsi Mustafa terkait hal itu.

Menurut Efiyanto, berdasarkan data atau informasi yang majelis hakim punya, JPU KPK belum pernah menyatakan hal-hal terkait peneraan nama Purwati Lee sebagai saksi. Dalam sidang yang berlangsung pada 8 April 2021 lalu, majelis hakim hanya mengetahui pemeriksaan kepada 6 orang saksi, di antaranya terdiri dari 5 orang saksi di dalam berkas perkara dan 1 orang saksi di luar berkas yakni Mofaje Caropeboka.

KIRKA.CO selanjutnya bertanya terkait pengetahuan kuasa hukum terdakwa Mustafa soal penjadwalan untuk memeriksa Purwati Lee di ruang sidang pada 8 April 2021.

M Yunus mengatakan, ”Sepertinya pernah (Purwati Lee dijadwalkan untuk diperiksa KPK). Langsung konfirmasi ke JPU-nya saja ya”.

Di sisi lain, anggota kepolisian berjumlah kurang lebih 30 orang, pernah terlihat bersiaga di seputaran PN Tipikor Tanjungkarang pada Kamis, 8 April 2021.

Beredar rumor bahwa keberadaan anggota Polri itu berkenaan dengan penjadwalan pemeriksaan kepada Purwati Lee dan juga terkait dengan persidangan perkara pada PHI Tanjungkarang yang banyak dihadiri penonton sidang.

 

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan