Menu
Precision, Actual & Factual

Perlakuan ‘Istimewa’ Penyidik Kejati Lampung di Perkara Korupsi Benih Jagung

  • Bagikan
Tersangka Dugaan Korupsi Benih Jagung IMM bersama Penyidik Kejati Lampung saat proses penyitaan aset oleh Kejati Lampung. Foto Dok Kejati Lampung

KIRKA.CO – Akademisi dari Universitas Lampung (Unila) Yusdianto menyayangkan tindakan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung atas penanganan kasus dugaan korupsi atas pengadaan benih jagung dari Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian untuk Provinsi Lampung 2017.

Menurut dia, ada beberapa tindakan Kejati Lampung yang disoroti dan perlu dikritisi.

Pertama itu, tuturnya, menyoal tidak ditahannya 3 orang tersangka pasca diumumkan status hukumnya.

Yusdianto mengatakan, Kejati Lampung tak menunjukkan serta menerangkan apa yang menjadi alasan di balik tidak ditahannya para tersangka.

Yang kedua, sambungnya, ketika Kejati Lampung melakukan penyitaan aset berupa rumah dan gedung milik salah satu tersangka.

Saat proses penyitaan berlangsung, pria diduga berinisial IMM yang merupakan salah tersangka di kasus ini, terlihat sedang tersenyum.

Bagi Yusdianto, lembaga penegak hukum harusnya perlu memperhatikan rasa keadilan yang layak di mata publik.

Ketiga, ia melihat proses pelaksanaan penyitaan yang berlangsung itu, terlihat tanpa pengawalan dari pihak kepolisian.

“Perlakuan ini sangat disayangkan. Semacam ada perlakuan istimewa kepada tersangka itu. Di satu sisi sudah tidak ditahan, laki-laki diduga tersangka itu terlihat senyum dan tanpa pengawalan kepolisian.

Senyum itu mengisyaratkan tidak ada beban dari penyitaan aset itu. Jangan-jangan itu bukan aset miliknya. Perlakuan ini agaknya berbeda dengan yang ada di KPK. Tersangka itu diborgol begitu ditetapkan,” jelas Yusdianto saat dihubungi KIRKA.CO, Minggu, 9 Mei 2021.

Diketahui, penyidik pada Aspidsus Kejati Lampung menyebut telah ada penetapan tersangka kepada 3 orang: dua ASN dan satu rekanan. Adapun tiga orang tersebut adalah EY, IM dan HRR.

Pelaksanaan penyitaan aset yang dilakukan itu, didasari dengan Surat Keputusan Nomor: 8/Pen.Pid.Sus-TPK/2021/PN.TJK. dan Nomor: 9/Pen.Pid.Sus-TPK/2021/PN.TJK.

Dalam pengajuan benih jagung, Pemprov Lampung mendapatkan alokasi anggaran berkisar Rp140 miliar untuk pembelanjaan benih varietas hibrida.

Dalam proses penyidikan, Kejati Lampung memperoleh fakta bahwa PT DAPI yang ditunjuk sebagai distributor untuk melaksanakan kontrak dengan nominal Rp15 miliar nyatanya tidak mendapatkan dukungan dari produsen jenis benih BIMA 20 URI.

Melainkan hanya melaksanakan proses jual beli antara PT DAPI dengan PT ESA. Karena itu, terjadi pembelian benih di pasar bebas dengan kualitas yang tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan.

  • Bagikan