Menu
Precision, Actual & Factual

Partai Demokrat Jangan Pilih Pemimpin Dari Utusan Corporation & Instan

  • Bagikan
Akademis Unila Dedy Hermawan dan Lambang Partai Demokrat. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat menunggu instruksi dari Dewan Pimpinan Pusat untuk menggelar Musyawarah Daerah.

Berbagai sumber KIRKA.CO menyebut sejumlah nama mulai bermunculan seperti Umar Ahmad, Yusuf Kohar dan Dendi Romadhona yang diprediksi bakal menjadi pesaing incumbent M.Ridho Ficardo untuk menahkodai partai berlambang bintang mercy tersebut.

Menanggapi itu, Akademisi Unila Dedy Hermawan agar partai Demokrat mencari pemimpin yang bisa melakukan perubahan untuk partai. Karena persaingan antar partai sangat kompetitif.

“Tetap kriteria pemimpin muda di tubuh partai Demokrat. Punya karir kaderisasi dipartai dan memiliki pengalaman di lembaga politik dan kompetisi pemilu. Tinggal siapa yang identik dengan kriteria itu mesti didorong oleh warga partai Demokrat,” kata Dedy Hermawan, Kamis (27/5).

“Jangan seperti kepemimpinan yang lalu, Ridho Ficardo. Itu kan instan, karbitan tidak membawa kemajuan partai, justru kemunduran dan terlalu dipaksakan, itu harus jadi pelajaran,” ucap dia.

“Memang pemimpin muda tidak selalu progresif dan transformatif. Itu karena pikiran pendek partai pada masa itu. Maka sekarang harus dirubah. Secara matang dalam mencari pemimpin ini,” ujar dia.

Selain itu, Dedi berharap agar Partai Demokrat bisa menjaga integritas, tetap menjaga misi partai dan tidak meninggalkan konsetuen.

Karena, kata dia, tidak menutup kemungkinan ada peran serta corporation untuk melindungi investasinya.

“Peluang Itu terbuka, apalagi partai di Indonesia selalu problem dengan modal finansial. Ini sudah jadi budaya sehingga dia lebih membuka diri dari calon pihak luar ketimbang internal. Banyak sekali tokoh atau orang direkomendasi untuk duduk dipartai. Seperti bunglon gitu, bisa pindah-pindah dia,” kata dia.

“Karena corporation berfikir mana yang ada potensi besar melindungi investasinya. Corporation mencari yang instan, mana yang bisa dimanfaatkan. Jadi tidak perlu bekerja keras. Jika partai membuka diri dan diintervensi pihak luar yang ada modal, tentu hal seperti itu kontra produktif terhadap kaderisasi dipartai,” ucap dia.

“Jangan sampai partai hanya menjadi kendaraan untuk kepentingan saja. Saya pikir bisa kiamat kalau ada partai seperti itu,” ucap dia.

  • Bagikan