Menu
Precision, Actual & Factual

Kesaksian Mofaje Caropeboka Tentang Chusnunia Chalim, Paryono Hingga Dana Rp 15,1 M ke PKB

  • Bagikan
Suasana ruang persidangan saat Mofaje Caropeboka diperiksa sebagai saksi di dalam perkara suap dan gratifikasi eks Bupati Lampung Tengah Mustafa pada PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 8 April 2021. Foto Ricardo Hutabarat

KIRKA.COWakil Ketua DPW NasDem Lampung Mofaje Caropeboka hadir dan diperiksa sebagai saksi di luar berkas perkara dakwaan yang disematkan KPK terhadap eks Bupati Lampung Tengah Mustafa atas suap dan gratifikasi di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 8 April 2021.

Kala diperiksa, Taufiq Ibnugroho selaku jaksa sebagai penuntut umum dari KPK melayangkan pertanyaan kepada Mofaje tentang pengetahuannya terhadap sosok Paryono, seorang dengan jabatan sebagai Sekretaris NasDem Lampung Tengah yang juga berkaitan dengan proses serah terima uang dari Mofaje ke Paryono atas instruksi Mustafa.

Uang itu diketahui berkaitan dengan biaya yang harus dikucurkan Mustafa untuk mendapatkan dukungan dari PKB, kala Mustafa ingin mencalonkan diri dalam kontestasi Pilkada 2018. Sebelum menyiapkan dana, Mustafa telah mengaku bertemu dan berbincang dengan eks Bupati Lampung Timur dan juga Wasekjen DPP PKB Chusnunia Chalim sehingga membuat kesepakatan atas mahar politik senilai Rp 18 miliar, yang diawalnya disepakati Rp 30 miliar. Mofaje pun menyebut, bahwa ia mengaku mengenal Paryono.

Perlu diketahui, Paryono sebelumnya sudah diperiksa di ruang persidangan pada 25 Februari 2021. Dalam kesaksiannya, ia mengaku diperintah oleh Mustafa untuk menemui Mofaje Caropeboka. Yang sebelumnya telah dijelaskan oleh Mustafa kepadanya, bahwa Mofaje sudah paham begitu Paryono nanti akan melakukan komunikasi terlebih berkait dengan uang-uang.

Singkatnya, kesaksian Paryono menjelaskan bahwa akhirnya ia mengambil uang dari Mofaje untuk diberikan dalam beberapa kali pertemuan kepada Midi Iswanto dan Khaidir Bujung sesuai dengan instruksi Mustafa. Dari keterangan Paryono, besaran uang yang ia terima dari Mofaje di awal-awal adalah Rp 5 miliar, kemudian Rp 9 miliar.

Sosok Midi Iswanto dan Khaidir Bujung sendiri diakui oleh Chusnunia Chalim dalam BAP-nya ketika diperiksa sebagai saksi pada 4 Maret 2021 adalah utusannya untuk bertemu dengan Mustafa. Soal kesaksiannya ini, Chusnunia Chalim alias Nunik memohon-mohon kepada jaksa agar kiranya keterangan tersebut dapat diubah dan diralat.

Tapi saat itu jaksa menanggapinya dengan mempertanyakan maksud dan tujuan tersebut, sebab di satu sisi, Nunik sudah tercatat beberapa kali diperiksa penyidik dan telah berkali-kali pula mengubah keterangan namun tidak pernah mengubah kesaksian soal profil Midi Iswanto dan Khaidir Bujung.

Berikut transkrip dialog ketika Mofaje ditanyai Taufiq Ibnugroho, jaksa sebagai penuntut umum dari KPK, berdasar rekaman visual dan suara yang dilakukan KIRKA.CO atas persetujuan majelis hakim di dalam ruang persidangan.

Taufiq: Terkait dengan kedekatan saudara dengan Mustafa dalam satu partai, apakah saudara juga kenal dengan orang yang bernama Miswan Rodi? Siapa Miswan Rodi ini?

Mofaje: Kenal. Beliau adalah Ketua Partai NasDem Lampung Tengah.

Taufiq: Kalau saudara, dengan Paryono kenal? Kalau Paryono ini siapa?

Mofaje: Kenal. Sekretaris Partai NasDem Lampung Tengah.

Taufiq: Ohh.. Jadi Miswan Rodi tadi adalah Ketua Partai NasDem Lampung Tengah, Paryono sekretarisnya. Saudara, kaitan apa saudara dengan Miswan Rodi dan Paryono ini? Sering komunikasi nggak saudara dengan mereka berdua? Terkait apa?

Mofaje: Sering. Itu terkait kepartaian.

Taufiq: Saudara tinggal dimana?

Mofaje: Saya tinggal di Bandar Lampung, Jalan HOS Cokroaminoto.

Taufiq: Apakah saudara tahu terkait dengan proses ketika Mustafa waktu masih menjadi bupati dan ada rencana mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Lampung?

Mofaje: Ya tahu.

Taufiq: Coba saudara jelaskan kalau tahu, terkait dengan pencalonan Mustafa itu. Coba jelaskan

Mofaje: Yang saya tahu. Setelah beliau dilantik menjadi Ketua NasDem Provinsi Lampung, beliau menyampaikan ke saya bahwa beliau mendapat tugas dari DPP NasDem untuk mencalonkan diri menjadi gubernur.

Awalnya saya tidak setuju. Tapi karena ini udah perintah dari DPP NasDem, maka beliau berupaya untuk mencalonkan diri. Dan kami sebagai teman-temannya, ya kami membantu, ya membantu sebisa kami lah.

Taufiq: Apakah waktu itu, selain Partai NasDem, pak Mustafa sudah terpenuhi kursinya terkait pencalonan gubernur?

Mofaje: Belum.

Taufiq: Apakah ada partai lain yang dukung Mustafa?

Mofaje: Partai PKS. Tidak ada partai lain yang mendukung beliau. Oh, ada satu lagi, Partai Hanura.

Taufiq: Sudah cukup ini untuk dukungan Mustafa sebagai calon gubernur?

Mofaje: Sudah, sudah. Sudah cukup.

Taufiq: Apakah terkait pencalonan Mustafa, apakah rumah saudara menjadi rumah pemenangan saudara?

Mofaje: Benar pak. Di depan rumah saya.

Taufiq: Apakah ada partai lain yang mendukung pak Mustafa?

Mofaje: Ada. Awalnya pak Mustafa berusaha untuk mendapatkan dukungan dari beberapa partai. Yang tadi Hanura dan PKS tadi sudah dapat. Awalnya beliau berusaha untuk mendapatkan dukungan dari PDI-P, PAN dan PKB.

Taufiq: Bisa saudara jelaskan proses terkait dukungan perahu partai tadi? Baik dari PDI-P, PAN dan PKB, seperti apa prosesnya yang saudara tahu. Apakah berhasil (mendapat dukungan) atau seperti apa?

Mofaje: Proses administrasi maupun lobi-lobi, saya tidak ikut. Yang saya tahu, kenapa kami harus bisa mendapat dukungan itu misalnya dari PDI-P, pada waktu itu saya ikut mendampingi beliau untuk pendaftaran.

Kemudian untuk Partai PAN pernah ada pembicaraan dengan pihak Partai PAN, saya ikut mendengar. Kemudian PKB.

PKB pun saya ikut mendengar, waktu itu pak Mustafa beserta rombongan, yang pada waktu itu saya tidak ikut biasanya saya ikut, pada waktu itu mereka berusaha menemui Ketua PKB di Lampung Timur.

Taufiq: Siapa?

Mofaje: Saya tahunya Nunik namanya. Wakil Gubernur (Lampung) yang sekarang. Chusnunia Chalim (namanya).

Taufiq: Oh. Pada waktu itu, pak Mustafa berusaha menemui Chusnunia Chalim, Ketua PKB. Terus, coba lanjutkan

Mofaje: Kemudian, setelahnya mereka ada pertemuan lagi di Bandar Lampung, saya lupa tempat makan atau kafe-nya apa itu. Itu di Kafe.

Setelah itu, ya prosesnya seperti itu. Terutama masalah untuk PKB ini pak, saya waktu itu dimintai bantuan. Dititipkan sejumlah dana yang nanti katanya akan diambil pak Paryono.

Dan itu dilaksanakan. Jadi pak Paryono itu bulan September 2017, ngambil dana itu di rumah saya. Karena rumah saya di belakang posko, maka dana itu dititipkan ke saya dan dana itu saya serahkan ke pak Paryono.

Itu tiga kali. Pengambilan pertama itu sejumlah Rp 5 miliar, kemudian di bulan yang sama itu sejumlah Rp 9 miliar, kemudian ada dana saya sendiri yang dipinjam tapi saya juga nggak tahu itu untuk apa. Yang terakhir itu, Rp 1,1 miliar. Totalnya Rp 15,1 miliar yang saya serahkan ke pak Paryono.

Taufiq: Tadi saudara mengatakan ada menerima titipan uang yang kemudian diserahkan ke pak Paryono. Itu, uang dari mana?

Mofaje: Dari pak Miswan Rodi yang nyerahkan ke saya.

Taufiq: Oh. Loh? Miswan Rodi ini kan tadi Ketua Partai NasDem Lampung Tengah. Kenapa mesti diserahkan ke saudara, dan saudara menyerahkan ke Paryono? Kan Paryono sekretarisnya (Miswan Rodi)? Coba anda jelaskan.

Mofaje: Hubungan kami sangat dekat, saya dan pak Miswan. Pak Miswan ini kakak iparnya pak Mustafa.

Taufiq: Sebelum anda komunikasi dengan Miswan tadi, apakah saudara juga sudah berkomunikasi dengan saudara Mustafa? Coba jelaskan.

Mofaje: Ada. Dia bilang ke saya, itu ada titipan dana, itu katanya warisan. Tolong pegang dulu, nanti segala sesuatunya dinda Miswan yang memberitahu kelanjutannya seperti apa.

Taufiq: Tadi saudara sebelum bicara mengenai uang, tadi saudara menjelaskan terkait dengan dukungan PKB. Bisa saudara jelaskan, apakah ada kaitan antara uang yang saudara sebutkan, Rp 5 miliar, Rp 9 miliar, Rp 1,1 miliar terkait dengan dukungan PKB tadi?

Mofaje: Jadi yang saya dengar, dana itu memang untuk diserahkan ke pimpinan PKB di Lampung.

Taufiq: Oh, uang tadi untuk diserahkan ke pimpinan PKB di Lampung. Tadi saudara menyebut, pimpinan PKB di Lampung itu Chusnunia Chalim? Benar ya?

Mofaje: Benar. Iya benar.

Taufiq: Tadi kan saudara menyampaikan bahwa uang akan diserahkan untuk ketua di ….

Mofaje: Maaf pak jaksa. Tidak ada yang menyampaikan ke saya seperti itu, tapi asumsi aja ini pak.

Taufiq: Maksudnya asumsi itu apa? Kalau di sini kan saudara bilang kalau kata pak Mustafa, nanti uang dari Miswan itu tolong diambil, diterima dan nanti diserahkan ke Paryono.

Mofaje: Iya.

Taufiq: Dalam menerima uang itu kan tentu, dalam hal apa, dalam kaitan apa, dan terkait dengan dukungan PKB. Apakah ada penyampain seperti itu dari pak Mustafa?

Mofaje: Enggak. Pak Mustafa tidak menyampaikan hal seperti itu. Tapi pada saat itu, disampaikan ke saya, pokoknya nanti ada dana dari Miswan, nanti segala sesuatunya pak Miswan yang kasih tahu. Disampaikan ke saya, nanti ada Paryono yang ambil dana itu.

Dan memang diambil dana itu. Saya yakin sekali kalau dana itu ke sana (pimpinan PKB di Lampung). Karena waktu itu kami lagi rebutan partai pak. Lagi rebutan dukungan.

Taufiq: Apakah maksudnya dana itu untuk dana dukungan perahu untuk pak Mustafa?

Mofaje: Iya. Iya benar. Tanpa disebutkan pun (oleh Miswan dan Paryono), nggak perlu bicara pun saya sudah tahu.

Taufiq: Jadi apakah benar uang itu digunakan untuk dukungan partai PKB?

Mofaje: Iya. Benar.

 

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan