Menu
Precision, Actual & Factual

Kening Ketua DPRD Lamsel Hendri Rosyadi Mengucurkan Keringat di Ruangan Ber-AC PN Tanjungkarang

  • Bagikan
Duduk di hadapan Majelis Hakim, bagian Kepala Ketua DPRD Lampung Selatan Hendri Rosyadi tampak bercucuran keringat. Hal itu terlihat pasca ia ditekankan oleh Ketua Majelis Hakim bernama Efiyanto agar berkata jujur tentang uang Rp 2 miliar diduga suap ketuk palu pengesahan APBD, juga tentang uang Rp 500 juta, serta tentang proyek Rp 10 miliar kepadanya. Foto: Eka Putra

KIRKA.CO – Ketua DPRD Lampung Selatan Hendri Rosyadi terlibat tanya jawab dengan Ketua Majelis Hakim Efiyanto di PN Tipikor Tanjungkarang pada Rabu sore, 24 Maret 2021.

Dia selalu diingatkan oleh Efiyanto untuk berkata jujur tentang perolehan uang Rp 2 miliar dari Agus Bhakti Nugroho yang diduga sebagai suap ketok palu ketika pengurusan APBD Lamsel.

Juga Hendri diingatkan untuk berkata jujur tentang uang Rp 500 juta dari Agus Bakti Nugroho yang diterimanya di rumah eks Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan.

Uang-uang tersebut diduga masih bagian dari uang hasil pungutan proyek pada Dinas PU-PR Lampung Selatan sejak tahun 2016 sampai 2018 yang dikumpulkan Hermansyah Hamidi dan Syahroni.

Penekanan untuk berkata jujur dari Efiyanto ini berangkat dari kesaksian- kesaksian sebelumnya yang menerangkan bahwa benar ada uang Rp 2 miliar dan Rp 500 juta yang masih bagian fee proyek mengucur ke Hendri Rosyadi.

Kesaksian soal uang-uang ke Hendri itu diketahui telah diutarakan oleh Zainudin Hasan, dan Agus Bhakti Nugroho dan juga Anjar Asmara.

Zainudin Hasan bahkan meminta Hendri turut jujur. Di sisi lain, Agus Bhakti Nugroho pun turut angkat biacara sambil berkata bahwa dia siap untuk disumpah pocong.

Kendati demikian, Hendri tetap mengatakan tidak pernah dan membantah menerima uang tersebut. Jawaban tidak atau bantahan itu diutarakan Hendri berkali-kali kepada Jaksa KPK bahkan kepada Majelis Hakim.

Efiyanto sempat berkata bahwa para Pejabat belakangan ini acap kali berbohong. Terlebih lagi ketika pejabat itu belum masuk penjara.

“Banyak Pejabat yang bohong, kemarin juga waktu Wagub (Chusnunia Chalim di perkara Lampung Tengah) jadi Saksi. Nggak jujur karena memang belum masuk. Kalau Pak Zainudin sudah sedikit jujur. Yang didepan Kami ini tidak jujur,” ungkap Efiyanto.

Efiyanto berharap Hendri berkata jujur karena telah disumpah di bawah naungan Al-Qur’an. “Nggak masalah kalau Saudara tidak takut di sini. Tapi ingat, Anda disumpah dipayungi Al-Qur’an. Itu sumpah Saudara sampai Kiamat,” tutur Efiyanto.

 

 

Seketika mendengar kalimat dari
Majelis Hakim, keringat terlihat bermunculan di bagian kepala Hendri Rosyadi. Sesekali dia memejamkan matanya dan membasuh wajahnya dengan tangan. Padahal diketahui, ruangan persidangan ini dilengkapi dengan 4 buah AC.

Efiyanto bahkan bertanya kepada Anjar Asmara soal paket proyek yang diterima oleh Hendri Rosyadi. Anjar dalam kesaksiannya mengatakan bahwa benar ia pernah diperintah oleh Zainudin Hasan untuk memberikan paket proyek ke Hendri Rosyadi.

Keterangan Anjar berkesesuaian dengan Zainudin Hasan dan Hendri Rosyadi. Terlebih perihal konteks lokasi peristiwa dimana ketiganya bertemu dan membahas soal paket proyek tersebut.

”Awalnya Pak Ketua Dewan bilang, kok Saya nggak dapat proyek? Saya jawab, waduh kalau itu lapor ke Bupati saja. Dan memang Kami berada pada satu kegiatan. Tak lama Pak Bupati dan Ketua Dewan duduk bersama. Setelah itu Pak Bupati bilang, Njar, kasih Rp 10 miliar aja,” ungkap Anjar.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan