Menu
Precision, Actual & Factual

Helmi Staf Disdik Tulangbawang Disebut jadi Juru Terima Pungli Kepala Sekolah

  • Bagikan
Kirka.co
Suasana Persidangan Lanjutan Perkara Korupsi DAK Pada Dinas Pendidikan Tulangbawang Tahun Anggaran 2019, Atas Nama Terdakwa Nasaruddin (Mantan Kadisdik) dan Guntur Abdul Nasser (Manager Koperasi BMW Tulang Bawang), Yang Digelar Di PN Tipikor Tanjungkarang Rabu 30 Juni 2021. Foto Eka Putra

KIRKA.CO – Persidangan perkara Korupsi Dana Alokasi Khusus fisik bidang pendidikan tahun anggaran 2019, kembali digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, dari kesaksian Kepala Sekolah yang dihadirkan didapati fakta bahwa setoran yang diberikan untuk syarat penerimaan bantuan ada yang diberikan melalui salah satu Staf Dinas.

Sidang lanjutan perkara korupsi di lingkungan Dinas Pendidikan Tulangbawang, atas nama dua terdakwa Nassaruddin selaku mantan Kepala Dinas, serta Guntur Abdul Nasser selaku Manager Koperasi BMW Pendidikan, digelar Rabu siang 30 Juni 2021 di ruang Bagir Manan gedung PN Tipikor Tanjungkarang.

Dari salah seorang saksi yang dihadirkan pada persidangan kali ini, seorang saksi bernama Sumito selaku Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Kabupaten Tulangbawang, membeberkan bahwa ia turut memberikan potongan uang penerimaan bantuan DAK kepada salah seorang staf Dinas bernama Helmi.

“Jadi waktu itu saya ditelepon sama staf Dinas namanya pak Helmi, dia bilang ‘Merapat, dana sudah bisa diambil’ pas saya ke sana sudah ada daftar nama dan potongan, itu di pencairan termin kedua dan ketiga, potongan itu ya saya kasih ke pak Helmi, kalau termin pertama saya berikan ke pak Guntur Abdul Nasser,” ungkap Sumito.

Lantaran heran dengan keterangannya yang begitu mudahnya menyerahkan 12,5 persen uang bantuan yang diterimanya, Hakim pun menanyakan apa penyebab dirinya bersedia memberikan tanpa banyak meminta penjelasan kepada pihak Dinas Pendidikan.

“Saksi, kan ini dipotong ya bantuannya sedang di perjanjian kan tidak ada ketentuan itu, apa saksi tidak berusaha menanyakan penyebabnya apa dan untuk apa,” tanya Hakim Edi Purbanus.

“Saya tidak pernah menanyakan kenapa sampai ada pemotongan, ya karena kebiasaannya sudah begini yang mulia, sudah dari lama seperti ini,” jelas Sumito.

Sementara diketahui dalam dakwaan Jaksa, kedua terdakwa diperkara ini didakwa telah bekerjasama melakukan pemungutan liar ke sebanyak 142 sekolah penerima bantuan DAK Fisik bidang pendidikan tahun anggaran 2019 di Kabupaten Tulangbawang, dengan besaran pungutan sebesar 10 sampai 12,5 persen.

Sehingga perbuatan kedua terdakwa tersebut diperkirakan telah mengakibatkan Kerugian Keuangan Negara sebesar total Rp3.670.239.750 (Tiga miliar enam ratus tujuh puluh juta dua ratus tiga puluh sembilan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah).

  • Bagikan