Menu
Precision, Actual & Factual

Dugaan Markup Anggaran Dana Desa dalam Pembangunan Desa Ulu Semong Tanggamus

  • Bagikan
Jalan Rabat didanai ADD Pekon Ulu Semong yang sudah terlihat tanahnya. Foto Setiawan

KIRKA.CO – Bantuan Anggaran Dana Desa (ADD) kerap kali jadi ajang penyelewengan bagi sejumlah oknum pemangku jabatan yang telah dipilih berdasarkan pemilihan suara.

Banyak kasus yang terjadi di Indonesia dan telah menetapkan sejumlah Perangkat Desa menjadi Tersangka. Biasanya, praktek penyelewengan terjadi akibat kurangnya pemantauan dari masing masing Pengawas Desa.

Di Desa Ulu Semong Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Dugaan penyelewengan anggaran pun terjadi, Tim penelusuran Kirka.co yang mendapatkan data serta laporan akan adanya dugaan KKN ini mencoba mencari tahu kebenaran informasi itu dengan mendatangi Pekon Ulu Semong.

Kantor Kepala Pekon Ulu Semong Tanggamus. Foto Setiawan

Desa di ujung Kabupaten Tanggamus ini terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat, sesampainya di lokasi Tim Kirka.co langsung disambut Kepala Dusun 1 Desa Ulu Semong bernama Armanto.

Dalam perbincangan terkait informasi adanya dugaan Markup Anggaran Fasilitas Pembangunan di Desa yang menggunakan dana bersumber dari Anggaran Dana Desa (ADD) dirumahnya pada Jum’at (12/03), Armanto mengaku tidak pernah mengetahui berapa besaran Anggaran yang didapatkan setiap tahunnya. Dari data yang didapatkan Kirka.co, pada tahun 2018 Desa Ulu Semong mendapatkan Anggaran Dana Desa sebesar Rp1,1 miliar sementara di tahun 2019 mendapatkan kucuran dana sebesar Rp1,4 miliar.

“Gak tahu Saya karena enggak pernah dilibatkan dalam urusan apa pun terkait Anggaran,” katanya.

Ketika Kirka.co menanyakan apa saja infrastruktur yang telah terbangun di bawah kepemimpinan Kepala Pekon, Bashan. Masih pada jawaban Armanto sebelumya, dirinya tidak mengetahui apapun. Hanya saja pernah ada perbaikan jalan di tahun 2019 yang diakui dirinya tidak pernah dilibatkan dan sekarang kondisi jalan tersebut sudah rusak kembali.

Guna menguatkan penyataan Armanto, Kirka.co mendatangi lokasi jalan yang dikatakan pernah diperbaiki. Hasil pantauan terhadap kondisi jalan tersebut memang telah rusak parah, anehnya jalan rigit yang diakui dibangun pada tahun 2019 nyatanya telah ada sejak tahun 2017, hal ini dibuktikan dengan adanya bukti batu prasasti pembangunan didekat lokasi jalan.

Armanto yang bekerja sebagai Petani kopi ini  juga mengaku, tidak pernah ada rapat terkait pembahasan soal rencana pembangunan infrastruktur. Dalam data yang diterima Kirka.co, anggaran untuk pengadaan jalan Pekon di tahun 2018 sebesar Rp212.473.100,-  sementara di tahun 2019, anggaran pembangunan/perbaikan jalan Pekon sebesar Rp325.742.900,-. Jika melihat kondisi jalan yang dimaksudkan, sangat tidak masuk akal dana sebesar itu untuk perawatan jalan.

Selain Armanto, Ketua Karang Taruna bernama Afrizal Fausi pun mempertanyakan terkait besarnya anggaran dana tersebut. Menurutnya, jika dana yang didapatkan setiap tahunnya sebesar itu, desa ini pasti akan maju.

“Saya baru tahu kalau Pekon Kami mendapatkan Anggaran sebesar itu, selama itu mungkin banyak masyarakat serta kepala dusun tidak mengetahui berapa besar anggaran itu,” ungkapnya.

Afrizal lalu menceritakan pengalaman nya selama menjabat sebagai Ketua Karang Taruna didesa itu, selama saya menjadi Ketua baru sekali Kami dibantu dalam hal kegiatan untuk pemuda pemudi di desa ini.

“Di tahun 2016, pernah ada kegiatan yang Saya ajukan untuk membuat Pekon Cup yang akan memperebutkan piala bergilir, namun bantuan hanya diberikan pada bulan pertama yakni baju seragam, jaring net, serta bola,” terang Afrizal.

Selepas itu tidak pernah ada lagi, jadi di bulan bulan berikutnya biaya Pekon Cup itu murni dari hasil patungan anggota Karang Taruna.

Dirinya juga menuturkan tidak pernah adanya fasilitas sekretariat untuk Karang Taruna.

Kondisi memprihatinkan fasilitas Air Bersih dibiayai ADD Pekon Ulu Semong. Foto Setiawan

Kemudian, dalam data di tahun 2018 juga tertulis bahwa ada anggaran sebesar Rp19.225.900,- dan Rp395.648.200,- untuk pengadaan jaringan air bersih dan sebesar Rp438.342.400,- untuk pembangunan/rehabilitasi/penyaluran air ke warga di tahun 2019.

Tim Kirka.co kemudian mencoba mendatangi proyek pembangunan air bersih tersebut. Di lokasi tepat yang berada di rumah Sekretaris Desa, dapat digambarkan pembangunan yang dimaksud kan sangat lah miris.

Hanya ada bangunan berbentuk segi empat yang diperkiran hanya menampung kurang dari 1 kubik air bersih. Dibangunan tersebut juga terlihat selang serta saluran air yang kotor akibat lumut.

Menurut keterangan salah seorang warga bernama Rizal, dirinya tidak pernah merasakan air dari pembangunan yang dimaksudkan.

“Selama ini pakai air sumur, kalau habis ya harus mandi ke kali karena gak pernah dapat air itu,” katanya.

Dari sejumlah tempat yang Kirka.co datangi di Pekon tersebut dan mengacu pada besarnya anggaran dana desa kuat dugaan praktik korupsi dengan cara Markup Anggaran bisa saja terjadi.

Setiawan

  • Bagikan