Menu
Precision, Actual & Factual

Diversifikasi Pangan Lokal Sebagai Solusi Ketahanan Pangan Dimasa Pandemi Covid 19

  • Bagikan
Soekarno Proklamator & Presiden Pertama Indonesia. Foto Istimewa

”Kepada yang biasa makan nasi 2-3 kali sehari saja serukan: Ubahlah menumu, campurlah dengan jagung, ketela-rambat, singkong, ubi, dan lain-lain. Hanya ini yang kuminta –mengubah menu, yang tidak akan merusak kesehatanmu.” Soekarno

Kutipan pidato Bung Karno bertajuk Vivere Pericoloso pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 1964 menegaskan arti penting diversifikasi pangan bagi rakyat Indonesia. Menurutnya, dengan mengurangi konsumsi beras melalui keragaman pangan lokal, keamanan dan ketahanan pangan nasional dapat terwujud.

Bung Karno mengatakan bahwa keragaman pangan bukan hanya soal isi perut semata. Tapi lebih dari itu, keberagaman pangan merupakan stimulus penumbuh rasa saling menghargai antar daerah dan rasa persatuan antar bangsa. Dan konsepsi ini masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini, di era 4.0. Konsep ketahanan pangan dimasa pandemi Covid 19.

Kita patut bersyukur, selain kesuburan tanah, negeri ini dianugerahi keberagaman hayati yang tak dimiliki oleh negara lain.  Keanekagaman hayati Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah Brasil. Ya, modal besar yang mesti dimaksimalkan guna  memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Agar prediksi generasi gagal tak terjadi di negeri ini.

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan, Indonesia memiliki 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu. Selain beras masih ada 76 jenis pangan sumber karbohidrat yang bisa menjadi bahan konsumsi harian. Luar biasa bukan.

Tak hanya itu, konsumsi keragaman pangan berdampak pada lahir nya keanekaragaman usaha tani, bertumbuh nya pengolahan pangan lokal dan bisnis kuliner nya. Jadi proyeksinya, pendapatan masyarakat juga akan naik.

Dahulu, di masa orde lama berkuasa, masyarakat Indonesia terbiasa mengkonsumsi komoditas pangan non beras, seperti jagung, ubi jalar, sorgum, sagu dan pangan lokal lain nya sebagai makanan pokok utama. Data menunjukan, di tahun 1954, komposisi karbohidrat dalam menu pangan masyarakat Indonesia proporsi beras hanya 53,5 persen. Sisanya dipenuhi panganan lokal dengan komposisi ubi kayu (22,6 persen), jagung (18,9 persen), dan kentang (4,99 persen).

Kondisi tersebut berubah sejak berkuasa nya rezim orde baru. Beras didorong menjadi  pangan utama masyarakat Indonesia. Data menyebutkan, di akhir tahun 80-an, proporsi beras berubah dominan dan mencapai angka 81,1 persen dan sisanya (minoritas) diisi panganan lokal dengan proposi : ubi kayu (10,02 persen) dan jagung (7,82 persen). Kebijakan ini membuat pangan lokal mulai terabaikan. Bahkan generasi penerus, terputus pengetahuannya mengenai pangan lokal. Miris bukan.

Kini di era Pandemi Covid 19, kita secara kasat mata dapat melihat betapa rapuh nya ketahanan pangan di negeri ini. Cita-cita Bung Karno mewujudkan kedaulatan pangan kandas oleh deras nya arus impor pangan. Catatan perdagangan luar negeri menunjukan, sejak tahun 1960 keran impor pangan (beras) mulai terbuka dan setiap tahun volume nya terus meningkat. Pada tahun 2018, impor beras Indonesia mencapai 2 juta ton. Lalu sepanjang Januari-Juni 2019 tercatat impor beras telah mencapai angka 203 ribu ton.

Hadirnya Covid 19 yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat diproyeksi para ahli sebagai biang terjadinya krisis pangan. Tak hanya negara berkembang, negara maju pun diprediksi mengalami hal yang sama. Bahkan, FAO berulang kali memperingatkan potensi tersebut dalam berbagai kesempatan. Menyikapi hal tersebut, negara-negara diberbagai belahan dunia bergegas diri mengantisipasi hal tersebut.

Alhasil, negara-negara importir pangan menutup keran impor nya. Pemenuhan pangan dalam negeri menjadi pilihan ditengah ketidakjelasan berakhirnya pandemi. Faktor Pembatasan sosial, iklim dan menurunnya daya beli masyarakat diprediksi mempercepat terjadi nya krisis pangan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, sebagai negara importir pangan, kita terlihat bingung mengantisipasi hal tersebut. Dan jalan diplomasi impor menjadi pilihan ditengah minimnya kemampuan finansial keuangan negara. Sebuah jalan neoliberal lagi-lagi harus dipilih. Sungguh sangat disayangkan.

Selanjutnya, melihat situasi tersebut diatas, penulis mengusulkan pilihan paling realistis ditengah situasi objektif yang ada. Jalan Bung Karno : memaksimalkan keberagaman pangan lokal dan diversifikasi pangan merupakan pilihan tepat yang mesti dilaksanakan. Program edukasi pangan lokal yang diikuti alih tekhnologi menjadi asa mewujudkan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat di era Pandemi Covid 19. Ya, melanjutkan cita-cita Bung Karno mewujudkan Indonesia berdaulat dan mandiri secara pangan adalah Langkah tepat, hemat dan bermartabat. Sebuah solusi terbaik saat ini.

Namun hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Program ini dapat terwujud melalui  komitmen, sinergiitas dan langkah berkesinambungan oleh pemangku kepentingan di Republik ini. Semoga…

DS Moza

  • Bagikan