Menu
Precision, Actual & Factual

Direktur PT Asmi Hidayat Ardy Gunawan dan Kesaksiannya Sebut Kejati Lampung

  • Bagikan
Total proyek yang diakui Ardy Gunawan (berkemeja motif kotak-kotak dan bercelana jeans) di Dinas PU-PR Lamsel, hanya senilai Rp 15, 8 miliar dan menyatakan telah memberi Rp 250 juta kepada eks Kadis PU-PR Lamsel Anjar Asmara. Paket proyek tersebut terdiri dari pembangunan Masjid Bani Hasan senilai Rp 10 miliar; pembangunan pagar masjid senilai Rp 900 juta; pembangunan Gedung DPRD Lamsel senilai Rp 4 miliar dan pembangunan Gedung Banggar DPRD Lamsel senilai Rp 900 juta. Foto Ricardo Hutabarat

KIRKA.CO – Direktur PT Asmi Hidayat Ardy Gunawan mengaku sebagai kontraktor yang mengerjakan paket proyek di Dinas PU-PR Lampung Selatan (Lamsel).

Sebelum diperiksa sebagai saksi di PN Tipikor Tanjungkarang, eks Kadis PU-PR Lamsel Anjar Asmara diakui Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Taufiq Ibnugroho telah menyatakan bahwa, nilai paket proyek kepada Ardy Gunawan telah disediakan sebesar Rp 27 miliar atas permintaan eks Bupati Lamsel Zainudin Hasan.

Dari penyediaan paket proyek tersebut, Anjar Asmara yang dulunya ditetapkan KPK sebagai tersangka mengaku telah menerima fee dari Ardy Gunawan senilai Rp 5,5 miliar dengan beberapa kali pemberian.

Hanya saja, pengakuan Anjar Asmara tersebut dibantah oleh Ardy Gunawan. Menurut dia, Anjar Asmara hanya pernah meminta uang Tunjangan Hari Raya (THR) atas permintaan Zainudin Hasan senilai Rp 250 juta. Uang itu ia berikan di halaman parkir Bank Panin, Bandar Lampung.

Ardy Gunawan saat diperiksa pada Rabu, 14 April 2021, sejak awal banyak mengaku tidak tahu dan tidak. Terlebih soal berapa jumlah perusahaan miliknya.

Setelah ditanya lebih jauh, Ardy Gunawan dengan sendiri mengaku memang punya 3 perusahaan. Ia tidak berdaya dan akhirnya mengakui hal-hal yang berkait dengan 3 perusahaan miliknya ketika ditanyai detail oleh Taufiq Ibnugroho.

Ardy Gunawan juga awal-awal hanya mengaku mendapat paket proyek pengerjaan Masjid Bani Hasan atas permintaan Zainudin Hasan melalui Anjar Asmara.

Namun kemudian, ia mengaku lagi, bahwa telah mendapat paket proyek untuk pembangunan Gedung DPRD Lamsel senilai Rp 4 miliar. Serta turut mengerjakan paket proyek pengadaan pagar masjid senilai Rp 900 juta.

Berdasar dari rekaman visual yang dilakukan KIRKA.CO di ruang sidang atas persetujuan majelis hakim, Ardy Gunawan kembali mengaku tidak tahu soal paket proyek lainnya.

Namun ia kembali tidak berdaya saat Taufiq Ibnugroho menyatakan, bahwa berdasar kesaksian Anjar Asmara, perusahaan milik Ardy Gunawan juga telah mendapat paket pekerjaan pembangunan Gedung Banggar DPRD Lamsel senilai Rp 900 juta.

Untuk paket ini, Ardy Gunawan mengatakan, mungkin iya.

Di hadapan majelis hakim, Ardy Gunawan bercerita tentang awal mula ia dan perusahaan miliknya dapat mengerjakan paket proyek di Dinas PU-PR Lamsel.

Ardy Gunawan mengatakan, dia terlebih dulu bertemu dengan Anjar Asmara di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung. Saat itu Ardy hanya menjelaskan soal keterangan tempat saja. Terkait detail waktu pertemuan itu tidak dirincinya.

Ardy: Bermula dari Pak Anjar mencari saya. Itu yang saya pernah sebagai saksi di tahun 2019, sebagai saksinya Pak Anjar.

Taufiq: Iya. Saudara sudah 3 kali ketemu saya di persidangan ini.

Ardy: Iya. Jadi betul pak.

Saya dipanggil saudara Anjar. Ditemukan. Kebetulan saya posisi sedang di depan masjid di Kejati Lampung. Jadi ketemu di halaman Kejati Lampung. Dia minta saya, artinya untuk membantu pembangunan masjid di Kalianda. Yang nilainya Rp 10 miliar.

Taufiq: Kenapa mesti saudara yang mengerjakan atas permintaan Zainudin Hasan?

Ardy: Pak Anjar kan orang Bandar Lampung Pak. Dia mungkin tahu lah, sama karya saya di Bandar Lampung.

Diketahui, sebelum menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Lamsel, Anjar Asmara dulunya adalah Kabid pada Badan Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung sejak tahun 2013 sampai 2015. Anjar Asmara juga pernah menjadi staff pada Biro Keuangan Pemprov Lampung untuk tahun 2015 dan akhir 2016.

JPU KPK Taufiq Ibnugroho sempat mengulas kembali tentang keterangan Anjar Asmara ihwal penerimaan fee senilai Rp 5,5 miliar dari Ardy Gunawan.

Menurut keterangan Anjar Asmara, ucap Taufiq Ibnugroho, pemberiaan uang Rp 5,5 miliar telah berlangsung beberapa kali, dan pernah berlangsung di kediaman Ardy Gunawan di Jalan Way Pisang Nomor 12, Pahoman, Bandar Lampung.

Mendapat pertanyaan itu, Ardy Gunawan mengaku memang bertempat tinggal di alamat tersebut. Hanya saja ia tetap menyangkal pemberian uang sebesar itu.

Sejauh ini, ucap Ardy Gunawan, uang senilai Rp 250 juta yang disebutnya hanya dipinjam Anjar Asmara atau berkait dengan uang THR, diberikan dengan tidak menggunakan kwitansi sebagi bukti tanda terima.

Untuk diketahui, pembangunan masjid di Kejati Lampung memang pernah berlangsung. Peresmian atas pembangunan masjid itu sendiri dihadiri langsung oleh Jaksa Agung Mohammad Prasetyo pada Rabu, 19 September 2018.

Pewarta KIRKA.CO yang dulunya bertugas pada media siber Kupastuntas.co turut hadir dalam peresmian masjid tersebut dalam hal melakukan peliputan.

Masjid tersebut disebut-sebut merupakan hibah yang diberikan Pemerintah Kota Bandar Lampung. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Wali Kota Bandar Lampung Herman HN dan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo.

Atas pembangunan, M Ridho Ficardo sempat menyampaikan kalimat candaan. Menurut dia, kendati Pemerintah Kota Bandar Lampung yang menyerahkan hibah kepada Kejati Lampung, namun nama masjid tersebut nyaris mirip dengan identitas Gubernur.

Perkataan Ridho Ficardo sontak disambut tawa dari para hadirin yang ada dalam kegiatan tersebut. Ia berkata, ”Ini yang disebut telur mata sapi. Ayam yang punya telur, tapi Sapi yang punya nama. Heheheh”.

Usai meresmikan masjid, Jaksa Agung M Prasetyo berjalan untuk berniat meninggalkan lokasi. Pada saat itu sempat turun hujan. Saat berjalan Jaksa Agung M Prasetyo sempat tergelincir dan nyaris jatuh.

 

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan