Hukum  

Dalam Surat Vonis, Hakim Putuskan Uang Rp330 Juta yang Diterima Dekan Fakultas Teknik Unila Helmy Fitriawan Adalah Suap

Uang Rp330 Juta yang Diterima Dekan Fakultas Teknik Unila Helmy Fitriawan Adalah Suap
Helmy Fitriawan menjalani pemeriksaan sebagai Saksi di PN Tipikor Tanjungkarang. Foto: Istimewa.

KIRKA – Dalam surat vonis, Hakim putuskan uang Rp330 Juta yang diterima Dekan Fakultas Teknik Unila Helmy Fitriawan adalah suap.

Majelis Hakim dalam Pertimbangannya memutuskan bahwa uang Rp330 juta yang diterima Dekan Fakultas Teknik Unila, Helmy Fitriawan adalah Suap.

Adapun Suap itu diterima Helmy Fitriawan dari proses pelaksanaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Unila pada 2021 dan 2022.

Pertimbangan yang memutuskan uang Rp330 juta yang diterima Dekan Fakultas Teknik Unila, Helmy Fitriawan adalah Suap tersebut, tertuang dalam Surat Vonis untuk mantan Warek I Unila Profesor Heryandi dan mantan Ketua Senat Unila Muhammad Basri.

Surat Vonis ini telah dibacakan Majelis Hakim yang diketuai Achmad Rifai dan Efiyanto D serta Edi Purbanus sebagai Anggota Majelis Hakim di PN Tipikor Tanjungkarang pada 25 Mei 2023 kemarin.

Sepenuhnya, Surat Vonis yang dibacakan Achmad Rifai dkk tersebut memuat keputusan bahwa Profesor Heryandi dan Muhammad Basri dinyatakan terbukti bersalah karena telah menerima Suap sebagaimana diatur dalam Pasal 12b UU Tipikor.

Dalam Pertimbangan ketika menguraikan Unsur Menerima Hadiah, Majelis Hakim menyatakan bahwa Profesor Heryandi bersama-sama dengan Muhammad Basri dan Helmy Fitriawan telah menerima uang atau hadiah dengan kategori perbuatan Suap sebesar Rp 780 juta.

Heryandi selaku Terdakwa I dinyatakan menerima Suap senilai Rp300 juta, Muhammad Basri selaku Terdakwa II menerima Suap senilai Rp150 juta dan Helmy Fitriawan yang masih berstatus Saksi menerima Suap senilai Rp330 juta.

”Terdakwa I [Heryandi], Terdakwa II [Helmy Fitriawan] dan saksi Helmy Fitriawan secara bersama-sama menerima sebesar Rp 780 juta, dengan pembagian sebagai berikut: Terdakwa I mendapat uang sebesar Rp 300 juta, Terdakwa II mendapat uang sebesar Rp 150 juta, Saksi Helmy Fitriawan mendapat uang sebesar Rp 330 juta,” demikian bunyi salah satu Pertimbangan Majelis Hakim ketika menguraikan Unsur Menerima Hadiah dalam Surat Vonis Profesor Heryandi dan Muhammad Basri.

Majelis Hakim memutuskan bahwa Unsur Menerima Hadiah oleh Profesor Heryandi dan Muhammad Basri sebagaimana dalam Pasal 12b dianggap telah terpenuhi dan terbukti.

Baca juga: Dekan Fakultas Teknik Unila Helmy Fitriawan Ikut Terjaring OTT KPK

”Menimbang, bahwa penerimaan hadiah tersebut diterima oleh saksi Karomani selaku Rektor Unila dan Ketua Pengarah PMB Tahun 2022 bersama-sama dengan Terdakwa I selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penanggung Jawab PMB Tahun 2022 dan Terdakwa II selaku Ketua Senat Universitas serta juga Dosen Unila serta saksi Helmy Fitriawan selaku Ketua Tim PMB Tahun 2022 dan berstatus sebagai Pegawai Negeri dan Penyelenggara Negara, maka unsur ini dianggap telah terpenuhi dan terbukti oleh perbuatan Terdakwa I dan Terdakwa II,” ucap Hakim kala itu.

”Menimbang, bahwa dari rangkaian fakta hukum tersebut di atas dan dihubungkan dengan pengertian yang diberikan oleh Undang-undang dan doktrin/pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan pemberian uang sebagai hadiah kepada Terdakwa I selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penanggung Jawab PMB Tahun 2022 dan Terdakwa II selaku Ketua Senat Universitas dan Dosen UNILA tersebut telah diakui pula oleh Terdakwa I dan Terdakwa II, sehingga Majelis Hakim berpendapat unsur kedua telah terpenuhi dan terbukti,” lanjut Hakim lagi.

”Menimbang bahwa, berdasarkan rangkaian fakta hukum tersebut di atas dan dihubungkan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan pendapat ahli hukum pidana/doktrin sebagaimana telah Majelis Hakim uraikan maka perbuatan “Menerima Hadiah” yang dilakukan saksi Karomani selaku Rektor Unila dan Ketua Pengarah PMB TA 2022 bersama-sama dengan Terdakwa I selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penanggung Jawab PMB TA 2022 dan Terdakwa II selaku Ketua Senat Universitas dan Dosen Unila, telah selesai secara sempurna (voltooid) pada saat uang itu berpindah kekuasaannya dari tangan pihak si pemberi (para orang tua Mahasiswa Baru TA 2022) kepada saksi Karomani dan Terdakwa I serta Terdakwa II, sehingga dapat disimpulkan Terdakwa I dan Terdakwa II bersama-sama dengan saksi Karomani merupakan tindak pidana dan telah menerima suap,” terus Hakim.

”Menimbang, bahwa penerimaan hadiah berupa uang tersebut diterima oleh saksi Karomani dan Terdakwa I dan Terdakwa II yang berstatus sebagai
Pegawai Negeri dan Penyelenggara Negara maka menurut Majelis Hakim unsur kedua ini telah terpenuhi dan terbukti,” sambung Hakim.

Profesor Heryandi dan Muhammad Basri diketahui dijatuhi hukuman pidana masing-masing 4,6 tahun hingga kewajiban membayar Uang Pengganti: Heryandi membayar Rp300 juta dan Muhammad Basri senilai Rp150 juta.

Sebagai informasi, uang Rp330 juta yang diterima Helmy Fitriawan ini telah disita oleh Penyidik KPK dari atap rumahnya Helmy Fitriawan. Uang itu diterimanya dari Profesor Heryandi dan Muhammad Basri.

Muhammad Basri dalam kesaksiannya mengatakan, Helmy Fitriawan adalah sosok calon Rektor Unila pengganti Profesor Karomani. Helmy Fitriawan digadang-gadang akan menjadi Rektor Unila terpilih dan dilantik untuk periode 2023-2027.

Baca juga: Pejabat Unila: Tidak Ada Barang Bukti Nomor 32 yang Disita KPK Dari Ruangan Saya

Namun karena ada kasus ini, rencana mendudukkan Helmy Fitriawan menjadi gagal total.  Dilihat dari situs Unila, Helmy Fitriawan masih berstatus sebagai Dekan Fakultas Teknik Unila dan baru-baru ini sedang melakukan kerja sama dengan pengelola Pulau Tegal, Thomas Azis Riska.

Uang Rp330 Juta yang Diterima Dekan Fakultas Teknik Unila Helmy Fitriawan Adalah Suap
Helmy Fitriawan dan Thomas Azis Riska. Foto: Istimewa.