Menu
Precision, Actual & Factual

Chusnunia Chalim hingga Musa Dinilai Berbohong, Boyamin Saiman Rencana Sumbang Lie Detector ke Hakim

  • Bagikan
Chusnunia Chalim Mantan Bupati Lampung Timur, saat menjadi Saksi atas Terdakwa Mustafa Mantan Bupati Lampung Tengah di PN Tanjungkarang. Foto Ricardo Hutabarat

KIRKA.CO – Kendati menunda kedatangannya ke PN Tipikor Tanjungkarang, Koordinator MAKI Boyamin Saiman rupanya menyimpan rencana di balik kunjungan dan niatnya menonton persidangan perkara suap dan gratifikasi eks Bupati Lampung Tengah (Lamteng) Mustafa.

Kepada pewarta Kirka.co, Rabu malam, 17 Maret 2021 mengatakan bahwa seyogyanya dirinya akan memberikan bantuan kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara Mustafa.

Bantuan dari Boyamin itu rencananya berupa alat lie detector atau alat yang berfungsi untuk mendeteksi atau menilai ucapan seseorang Saksi di persidangan; apakah benar atau sedang berbohong.

Lie detector yang diwacanakan diberikan Boyamin tersebut, ungkapnya, merupakan respons dia terhadap ‘kegalauan’ Majelis Hakim terhadap keterangan sejumlah Saksi pada Kamis lalu, 4 Maret 2021.

Pada saat itu, hakim hingga Jaksa sebagai penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai bahwa keterangan para Saksi; Chusnunia Chalim (eks Bupati Lampung Timur yang juga Wagub Lampung), Khaidir Bujung dan Midi Iswanto (eks kader DPW PKB Lampung) dan Musa Zainudin (eks anggota Komisi V DPR RI), adalah bohong. Keterangan bohong itu dominan dinilai hakim telah dilakoni para Saksi-saksi itu.

Boyamin berharap nantinya, dengan adanya alat lie detector tersebut,  Majelis Hakim semakin mantap menerapkan pasal atas kesaksian bohong, atau sebagai niat melecehkan pengadilan kepada Saksi-saksi berikutnya.

Diketahui, para Saksi di atas sebelumnya dimintai keterangan berkait dengan aliran mahar dari Mustafa kepada DPP PKB senilai Rp 18 M. Menurut Mustafa, uang itu adalah hasil komitmen antara dirinya dan Chusnunia Chalim.

Keterangan Mustafa itu diaminkan oleh Midi Iswanto dan Khaidir Bujung serta Musa. Namun Chunusnia membantah hal itu.

Ulasan yang sempat dibahas juga, bahwa Rp 18 M itu tidak dapat utuh kembali ke Mustafa ketika Mustafa tidak mendapat dukungan PKB saat dirinya ingin mengikuti kontestasi Pilkada 2018 silam.

Sisa uang Rp 4 M yang belum dapat dipulangkan ke Mustafa ternyata telah digunakan oleh Musa Zainudin, dan diberikan kepada Ketua DPC PKB se-Lampung dan juga turut dinikmati Chusnunia Chalim. Midi mengatakan bahwa dirinya adalah penulis yang membuat catatan penggunaan uang-uang itu. Menurut Midi, atas perintah Chusnunia, uang senilai Rp 1 M telah diberikannya kepada Ela Siti Nuryamah, seorang kader PKB yang dulu adalah DPRD Lampung Timur kini anggota DPR RI Komisi XI.

Kesaksian Midi itu kemudian dibantah. Chusnunia yang juga disebut Midi memakai Rp 150 juta membantah hal itu. Menurut Chusnunia, Rp 150 juta digunakannya untuk membangun kantor DPC PKB Lampung Tengah. Padahal berdasarkan saksi kunci yang dikantongi KPK, Chusnunia telah mencoba mengarahkan Slamet Anwar agar bila tiba waktunya diperiksa KPK, agar Slamet mengaku sebagai orang yang menggunakan uang Rp 150 juta itu.

Lie detector adalah sebuah mesin poligraf yang dirancang dengan sensor khusus guna mendeteksi kebohongan pada manusia. Alat ini awalnya ditemukan pada awal tahun 1902. Seiring perkembangan zaman, lie detector sudah memiliki banyak versi yang lebih modern dan lebih canggih.

Alat pendeteksi kebohongan pada dasarnya bekerja dengan cara mencatat dan merekam reaksi seseorang dalam bentuk gelombang magnetik ketika ia diberikan sejumlah pertanyaan secara berkelanjutan. Anda akan ditempeli sejumlah sensor selama prosesnya untuk mendeteksi alat-alat vital Anda, seperti detak jantung, pernapasan, dan kulit.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan