Menu
Precision, Actual & Factual

Bashan Klaim ADD Ulu Semong Digunakan Dengan Tepat & Akui Berikan Jabatan Keponakan dan Istri Keponakan

  • Bagikan
Bashan Kepala Pekon Ulu Semong Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus. Foto Setiawan

KIRKA.CO – Bashan, Kepala Desa Ulu Semong Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus mengklaim bahwa dirinya telah mempergunakan Anggaran Dana Desa dengan sebenarnya-benarnya.

Ditemui di kediamannya Jumat sore (12/03), Bashan yang kala itu sedang berbincang dengan rekannya di teras rumah menyambut baik kedatangan Jurnalis Kirka.co.

Kepada Kirka.co, Bashan telah menjalankan pembangunan berdasarkan rencana pengajuan pembangunan yang dikucurkan dalam bentuk Dana Desa sebesar Rp1,1 milyar pada tahun 2018 dan Rp1,4 miliar pada tahun 2019.

Adapun pembangunan yang telah dikerjakan yakni meliput rigit beton jalan Pekon, gorong gorong, pagar Balai Desa serta pembangunan sumber air bersih untuk masyarakat.

“Sudah ada pembangunan itu semua, tapi untuk pembangunan ditahun 2019 sempat terhenti karena ada Covid 19 dan sekarang dilanjutkan lagi menggunakan Anggaran 2019,” katanya.

Disinggung soal adanya dugaan Nepotisme dengan memberikan “double job” untuk ponakan dan istri¬† keponakan nya. Bashan mengakui hal tersebut, menurutnya aturan itu memang sudah begitu adanya.

“Iya benar, aturan itu dari kecamatan,” ungkap Bashan.

Terkait tudingan dari Ketua Karang Taruna setempat, Bashan juga mengatakan bahwa pemuda-pemuda di Desa nya yang tidak mau akan adanya kegiatan.

“Saya sudah mengajak para pemuda disini, awalnya ya semangat ujung- ujungnya pada menghilang,” tuturnya.

Mobil Ambulance Aset milik Pekon Ulu Semong parkir dirumah Kepala Pekon Ulu Semong Bashan. Foto Setiawan

Ketika berkunjung ke rumahnya, jurnalis Kirka.co juga mendapati ada satu unit mobil Ambulance yang diakuinya digunakan untuk seluruh masyarakat Desa secara gratis.

Padahal, menurut salah seorang sumber yang sama yakni Ketua Karang Taruna bernama Afrizal Fausi. Dirinya pernah dipersulit ketika akan menggunakan fasilitas Ambulance untuk menjemput Bapaknya yang dirawat di Rumah Sakit Pringsewu.

“Waktu itu pernah mau pakai itu, tapi kayak dipersulit karena harus minta izin sana sini akhirnya karena kesal saya menyewa travel untuk jemput bapak saya,” ungkap Afrizal.

Masih dilokasi yang sama, salah seorang warga juga mengatakan mobil Ambulance itu pernah beberapa kali diluatnya keluar namun tidak digunakan untuk semestinya.

“Pernah beberapa kali saya liat keluar (digunakan) tapi bukan untuk anter yang sakit, kayak di pakai untuk jalan jalan gitu lah,” paparnya.

Adanya mobil Ambulance yang diakui dibeli dengan harga Rp200 juta lebih di parkiran dirumahnya karena menurut Bashan tidak ada garasi di Puskesmas Pembantu.

“Disana tidak ada garasinya, nanti rusak kena anak anak yang bermain,” kata Bashan.

Setiawan

  • Bagikan