Menu
Precision, Actual & Factual

(Bagian II) Menguji Data Jaksa KPK Taufiq Ibnugroho, yang Sebut Chusnunia Chalim Modali Pelarian Mutakin

  • Bagikan
Chusnunia Chalim disebut jaksa sebagai penuntut umum dari KPK telah mendanai pelarian Mutakin, saksi dalam perkara Musa Zainudin yang menerima suap Rp 7 miliar. Chusnunia Chalim disebut memberi Rp 10 juta kepada Mutakin agar pergi jauh ke Aceh. Foto: Ricardo Hutabarat

KIRKA.CO – Berangkat dari keterangan Taufiq Ibnugroho. Kirka.co melakukan penelusuran terhadap surat putusan atas perkara korupsi Musa Zainudin (Nomor 90/Pid.Sus-TPK/2017/PN.JKT.PST).

Di dalam surat putusan tersebut, keterangan Mutakin sebagai salah satu Saksi dalam perkara Musa telah dicatat.

Bahkan poin pertimbangan Majelis Hakim untuk menyatakan Musa Zainudin terbukti bersalah berbuat korupsi pun, berangkat dari kesaksian Mutakin.

Dari apa yang tertera di surat putusan tersebut, nama Chusnunia Chalim tidak tercantum sebagai pihak yang memberi uang kepada Mutakin.

Hanya saja, dalam kesaksian Mutakin tercatat bahwa dirinya tidak sendirian mengunjungi Musa Zainudin di Rumah Sakit MMC. Mutakin mengaku bertemu banyak orang di sana. Mutakin juga mengaku dan dibenarkan oleh Musa, bahwa ada sosok orang yang tidak dirincikan dengan detail yang menganjurkan agar Mutakin pergi jauh. (Baca isi kesaksian Mutakin pada poin nomor 4)

Berikut isi pertimbangan Majelis Hakim :

Menimbang bahwa, setelah penyerahan uang tersebut, Mutakin pada bulan Februari 2016 menyerahkan surat panggilan dari KPK kepada Musa Zainudin sebagai Saksi. Saat itu Terdakwa meminta kepada Mutakin pergi agar tidak kena (terlibat) dengan imbalan uang Rp 10 juta.

Selanjutnya Mutakin pergi dengan mengajak teman kuliahnya Cut Habibi ke Aceh menggunakan bus. Kemudian sewa kamar/kos di Simpang Mesra depan Polda Aceh selama 1 bulan dengan uang yang diberikan Terdakwa (Musa Zainudin_red).

Kemudian berpindah ke Kota Medan. Tinggal di daerah Setiabudi dekat Kampus USU. Tanggal 1 April 2016 setelah 1 bulan di Medan, pindah lagi ke Kota Batam. Sewa kamar kos dekat Nagoya Hill Mall.

Mutakin dan Cut Habibi sempat kehabisan bekal uang. Lalu menghubungi seseorang namun tidak diangkat teleponnya. Lalu seseorang tersebut setelah menerima nomor telepon misscall, minta agar mengirim nomor rekening ke nomor yang diberikannya.

Setelah Cut Habibi mengirim nomor rekening Bank BRI Cabang Tanjungkarang ke nomor rekening orang yang tidak dikenal tersebut, kemudian ditransfer oleh orang tidak dikenal tersebut uang Rp 3 juta. Lalu pada bulan Mei 2016, Saksi pindah ke Kota Surabaya sewa kamar di Kecamatan Pakis.

Di Surabaya sampai tanggal 15 Februari 2017 kamar kos tersebut disiapkan oleh orang yang mengaku bernama Arif yang sebelumnya menjemput kedatangan Cut Habibi dan Mutakin di terminal bis Surabaya. Selama di Surabaya, Cut Habibi beberapa kali menerima uang tunai dari Arif.

Menimbang bahwa Mutakin akhirnya menghadiri panggilan pemeriksaan sebagai Saksi oleh KPK karena berita di media sosial yang ditetapkan sebagai Tersangka oleh KPK adalah Musa Zainudin, sehingga Mutakin yakin pernyataan Terdakwa yang membuat Mutakin takut terkena masalah setelah menerima uang dari Jaelani adalah tidak benar.

Lalu tanggal 15 Februari 2017 Mutakin pulang ke Lampung dan tanggal 19 Februari 2017 memenuhi panggilan KPK sebagai Saksi atas surat panggilan tanggal 18 Februari 2017.

Berikut kesaksian Mutakin:

1. Saksi baru mengetahui ketika Musa Zainudin mendapatkan panggilan dari KPK sebagai Saksi tanggal 13 Februari 2016 dan Saksi menerima surat tanggal 11 atau 12 Februari 2016 dari Sekretariat Komisi V DPR RI.

2. Bahwa Saksi menjelaskan saat di kantor setelah menerima surat panggilan dari KPK Musa Zainudin menanyakan kepada Saksi, siapa saja yang mendapatkan panggilan dari KPK. Saksi menjawab, bahwa yang mendapatkan panggilan dari KPK antara lain Andi Taufan Tiro, Abang (Musa Zainudin), serta salah satu Tenaga Ahli (TA), yang Saksi lupa namanya.

3. Bahwa setelah pulang ke rumah dinas di Kalibata. Kemudian Saksi dipanggil oleh Musa Zainudin dan menyampaikan “TA yang dipanggil KPK itu adalah JAY, tau kan? Itu yang nyerahkan uang ke kamu itu”. Mendengar hal tersebut, Saksi hanya diam dan tidak menjawab apa-apa. Saat itulah Saksi mengetahui kalau tas yang diberikan oleh Jailani untuk Terdakwa Musa Zainudin melalui Saksi, isinya adalah uang.

4. Bahwa sehari setelah penyampaian hal tersebut, Terdakwa sakit dan dirawat di RS MMC. Pada saat di rawat di RS, Saksi menjenguk Terdakwa dan di RS ramai yang menjenguk. Kemudian ada yang bilang, kalau Saksi sebaiknya pergi dan dibenarkan oleh Terdakwa.

Saksi pernah ditakut-takuti oleh Terdakwa Musa Zainudin terkait penyerahan uang tersebut dimana Terdakwa Musa Zainudin mengatakan kepada Saksi, “Kayaknya bagusnya Kamu lari Kin, karena kalau Kamu tidak lari bisa-bisa Kamu yang kena. Terserah mau pergi kemana, ke ujung Aceh juga bisa”.

Selanjutnya Terdakwa Musa Zainudin memberikan Saksi uang sejumlah Rp10 juta untuk berangkat ke Aceh yang menyuruh untuk mengambil uang dari tas yang ditunjuk Terdakwa selanjutnya diberikan kepada Saksi.

5. Bahwa Saksi menjelaskan berangkat menuju Aceh bersama dengan Cut Habibi. Di Aceh Saksi tinggal selama 1 bulan dan selanjutnya Saksi bersama Cut Habibi pindah ke Medan.

Selanjutnya Saksi pindah ke Batam dan terakhir Saksi pindah ke Surabaya. Selama berpindah-pindah daerah tersebut Saksi memperoleh uang dari Cut Habibi dimana sebelumnya Cut Habibi telah menerima kiriman uang dari Terdakwa Musa Zainudin.

6. Bahwa uang yang Saksi terima dari Cut Habibi bervariasi, dari Rp 3 juta, Rp 6 juta, Rp 8 juta, kadang Rp 10 juta dan paling tinggi Rp 15 juta untuk biaya hidup Saksi selama berpindah-pindah daerah.

7. Bahwa Saksi selama pergi, pada minggu pertama di Aceh, kemudian pergi ke Medan, ke Batam. Setelah itu ke Surabaya.

Sebagai catatan, Kirka.co sebelumnya telah menanyakan perihal pendanaan Rp 10 juta sebagai modal yang disebut Taufiq Ibnugroho untuk Mutakin melarikan diri. Taufiq tidak merespons pertanyaan mengenai, sudah final kah uang Rp 10 juta tersebut berasal dari Chusnunia Chalim?

Kirka.co baru-baru ini sempat berdialog dengan salah satu pihak yang disebut Taufiq Ibnugroho turut berada dalam peristiwa ketika Chusnunia Chalim memberi uang Rp 10 juta ke Mutakin. Kepada Kirka.co, salah satu pihak tersebut membantah keberadaannya pada peristiwa di RS MMC itu.

Sepanjang perjalanan persidangan, tidak ada pihak yang bertanya kepada Chusnunia Chalim ihwal pendanaan uang Rp 10 juta tersebut. Hanya saja Chusnunia Chalim memamerkan raut wajah yang menggambarkan bahwa keterangan Taufiq tersebut tidak benar.

Chusnunia Chalim bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya –sikap yang selalu dipamerkannya di hadapan majelis persidangan ketika nama dia disebut-sebut.

Ricardo Hutabarat

Catatan : Sambungan dari Bagian I

  • Bagikan